Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Daerah Ini Sulap Sampah Jadi Listrik dan Gas

Ahad 05 Oct 2014 14:15 WIB

Red: Mansyur Faqih

Bupati Banjar Khairul Saleh (kiri) saat demo penggunaan gas untuk rumah tangga dari pengelolaan sampah.

Bupati Banjar Khairul Saleh (kiri) saat demo penggunaan gas untuk rumah tangga dari pengelolaan sampah.

Foto: Humas Pemkab Banjar

REPUBLIKA.CO.ID, BANJAR -- Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan menggarap program Sampah Membawa Berkah untuk membuat lingkungan sekitar terjaga bersih. 

Namun, program itu juga mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat. Karena, berhasil mengubah urusan pengelolaan sampah yang sebelumnya selalu rumit dan bermasalah menjadi mudah. Malah, menguntungkan.

"Kami menyulap TPA yang dulunya kumuh, kotor, dan bau menjadi TPA yang nyaman, sehat dan malah menghasilkan listrik dan gas," kata Bupati Banjar Sultan H Khairul Saleh, Ahad (5/10).

Ia menjelaskan, ide Sampah Membawa Berkah muncul dari pengalaman panjang Banjar mengelola sampah. Yaitu, saat TPA (tempat pembuangan akhir) tidak lagi mampu menampung volume sampah yang setiap hari diangkut ke sana. Bahkan sampai menumpuk dan menutupi bahu jalan raya.

Peningkatan volume membuat paradigma pengelolaan sampah harus diubah. "Dulu paradigmanya hanya kumpul, angkut, buang. Akhirnya sampah menumpuk dan TPA tak sanggup menampung," kata Khairul.

Maka dibuatlah sistem pengelolaan baru dengan sejumlah rangkaian. Jadi, sampah sudah harus dipilah sejak dari rumah. Dipilih mana yang bisa masuk bank sampah, dikumpulkan di TPS (tempat pembuangan sampah). 

Di setiap TPS disediakan bak sampah berbeda sesuai peruntukan. Ada bak sampah plastik, bak gelas, bak logam, dan bak untuk kertas. Sampah dari TPS lalu diangkut dan dipilah lagi di TPA.

Program ini dilaksanakan Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Banjar dengan menggandeng sejumlah kelompok swadaya masyarakat (KSM). KSM melakukan edukasi kepada masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah sejak di rumah tangga, pasar, mau pun toko/warung. 

Bila masih kesulitan dalam memilih dan memilah sampah tersebut, minimal sampah dipisahkan antara sampah basah (mudah membusuk) dan kering (plastik,kaleng dan lain-lain).

"Pemilahan sampah ini dibutuhkan karena sangat berkaitan erat dengan tujuan akhirnya. Ini nanti sampah akan dijadikan apa," kata Khairul.

Salah satu yang telah berhasil dilaksanakan adalah pemanfaatan gas metan dari proses pembusukan sampah menjadi sumber energi terbarukan di TPA Cahaya Kencana. TPA yang berlokasi di Desa Padang Panjang Kecamatan Karang Intan itu memiliki luas area 28 hektare (16,5 ha sudah digunakan). Dengan rata-rata produksi timbunan 150 meter kubik sampah per hari.

Gas metan yang sebelumnya terbuang sia-sia dan tidak termanfaatkan itu sekarang telah menghasilkan tenaga listrik 5000 KvA. "Bukan hanya listrik, tetapi juga ada bonus pasokan gas untuk rumah tangga. Sekarang sudah mengaliri gas untuk 55 KK. Target kami akhir tahun bisa mencapai 200 KK," ujar Khairul.

 Ia menjelaskan, selama ini pengelolaan sampah tidak efektif karena dibuang ke sistem pembuangan sampah yang tercampur. Sehingga sulit untuk dikelola dengan baik. 

Ditambah, area TPA yang dibiarkan terbuka (open dumping). "Gas yang dihasilkan akhirnya terbuang percuma ke udara. Selain sia-sia tentu saja sangat merusak lapisan ozon," katanya.

Padahal, sampah yang potensial menjadi tenaga listrik adalah yang berbahan organik. Sehingga untuk memanfaatkannya memang harus dilakukan pemilahan sampah baik sampah kering mau pun basah. 

Sampah juga harus dikumpulkan dalam area timbun tersendiri (landfill). Sampah yang telah ditimbun di zona landfill di TPA ini yang menghasilkan gas metan (CH4) yang dapat terbakar (flammable).

Gas yang telah terkumpul di dalam landfill selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur menuju instalasi penyulingan. Tujuannya, untuk memisahkan gas metan dengan air sehingga dapat dimanfaatkan.

Pemanfaatan gas metan terbukti berkontribusi positif bagi lingkungan, karena kandungan kalori dari gas metan relatif lebih rendah dibanding dengan gas alam, butana dan propana. Namun, masih lebih tinggi dari gas batubara. 

Selain itu pemanfaatan gas metan cukup ramah lingkungan. Karena sumber bahannya memiliki rantai karbon yang lebih pendek bila dibandingkan dengan minyak tanah. Sehingga gas CO yang dihasilkan relatif lebih sedikit.

Menurutnya, gas dari landfill sampah (mengandung metana atau CH4) adalah sumber energi berharga yang dapat dimanfaatkan dari sampah yang terbuang. "Sejauh ini pemanfaatan gas di TPA hanya melalui proses landfill. Jadi tidak ada pembakaran melalui incinerator," kata Khairul.

Pemerintah dan masyarakat Banjar pun memperoleh penghargaan Adipura dan Adipura Kencana di tingkat nasional. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA