Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Tak Ada Premium, Pertamax Pun Jadi

Kamis 13 Nov 2014 04:17 WIB

Red: Agung Sasongko

Petugas membantu warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Jakarta, Selasa (7/10).(Prayogi/Republika)

Petugas membantu warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Jakarta, Selasa (7/10).(Prayogi/Republika)

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKALIS -- Akibat bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium semakin langka, para pengecer menjual pertamax dengan harga yang mencapai Rp16.000 per liter. "Saya menjual pertamax karena bbm susah didapatkan di APMS," kata salah seorang pengecer pertamax, Fazar (35) di Bengkalis, Rabu Malam.

Ia mengatakan, walaupun pertamax dijual dengan harga Rp16.000, para pembeli tetap antri, bahkan sekitar satu jam setelah ia mengecer, pertamax yang ia jual habis. Salah satu pembeli, Iska mengatakan bahwa ia terpaksa membeli pertamax di pengecer karena sulitnya mencari premium.

"Daripada saya tidak bisa beraktivitas, lebih baik saya membeli pertamax," katanya.

Ia mengatakan, sudah sejak dari sebulan ini BBM bersubsidi jenis premium sulit dicari.  "Mungkin sejak adanya isu kenaikan BBM bersubsidi, premium di Bengkalis semakin sulit dicari," katanya.

Pulau Bengkalis merupakan ibu kota dari Kabupaten Bengkalis, dimana daratannya dipisahkan Selat Bengkalis sehingga untuk menjangkau pulau tersebut harus menggunakan kapal penyeberangan RoRo.

Dari Kota Pekanbaru membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke Pulau Bengkalis, terlebih jika terjadi antrean panjang saat berada di pelabuhan penyeberangan.

Sementara itu dikabarkan, tim pengawas BBM dari Polres dan Disperindag Bengkalis telah turun ke sejumlah APMS untuk mengantisipasi terjadinya kelangkaan BBM tersebut.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bengkalis, Raja Arlingga mengatakan, sudah ada kesepakatan bahwa APMS harus lebih mengutamakan penjualan di APMS dan tidak melayani para pengecer.

"Kalau masih melayani pembelian pedagang pengecer dengan jumlah banyak, maka bersiap akan mendapatkan sanksi tegas," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA