Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Meski Harga BBM Turun, Pedagang Masih Enggan Ubah Harga Sembako

Selasa 20 Jan 2015 20:36 WIB

Rep: Ahmad Baraas/ Red: Winda Destiana Putri

Pasar Sembako

Pasar Sembako

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak serta merta menurunkan harga bahan kebutuhan pokok, seperti beras, gula dan minyak goreng.

Salah seorang penerima order atau pedagang suplier sembako, Jefri mengatakan, dia masih menunggu perkembangan selanjutnya.

"Saya ini mengambil barang dengan harga lama, jadi menjualnya dengan harga lama juga. Kalau nanti dari distributor turun, saya pasti menurunkan harga juga," kata Jefri di Denpasar, Selasa (20/1).

Suplier bahan kebutuhan pokok untuk toko pengecer itu menyebutkan, dia belum yakin betul, kalau harga-harga akan turun dalam waktu singkat. Karena menurut Jefri para pedagang besar umumnya membali barang dengan harga lama dan stok mereka cukup banyak.

Tetapi kata Jefri, harga BBM bukan satu-satunya penentu naik-turunnya harga bahan pokok, karena ada komponen lain, seperti kurs dolar. Beberapa bahan kebutuhan pokok seperti minyak goreng, bahan atau plastik kemasannya ada yang didatangkan dari luar negeri, sehingga harganya terpengaruh terhadap kurs dolar.

"Kalau dolarnya masih tinggi, harga-harga kebutuhan pokok juga terpengaruh," katanya.

Secara terpisah, pedagang sayur keliling Sumartono mengatakan, harga-harga masih tetap dan belum ada indikasi turun. Dia juga tidak tahu, apakah penurunanan harga bisa secepatnya, kendati harga BBM sudah turun.

Harga cabai rawit masih di atas Rp90.000 perkilogram dan kalau diecer atau dikemas kecil-kecil dengan isi 11 biji, harga cabai kemasan itu dijual Rp2.000. Jadi per biji cabai harganya sampai Rp200.

"Mau apa lagi. Harga awalnya sudah mahal, menjualnya pun dengan harga yang sudah harus disesuaikan juga," katanya.

Sementara menurut Mamah, pedagang gorengan di kawasan Pemecutan, Denpasar Barat, mengaku pasrah dengan mahalnya harga cabai. Padahal sebut Mamah, dengan menjual goengan Rp500 per biji, utungnya sangat minim, ditambah dengan menyediakan cabai, untungnya menjadi sangat tipis.

"Kalau menaikkan harga tidak mungkin. Kalau saya tidak berjualan nanti mau makan apa. Ya biarlah untungnya menipis, asal ada saja. Mudah-mudahan nanti harga cepat stabil," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA