Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Pemukulan Polisi oleh Tentara, TNI Jamin Keamanan SCBD

Rabu 11 Feb 2015 20:11 WIB

Red: Julkifli Marbun

Warga melintas di Apartemen Capitol Jakarta Pusat,SCBD, Kamis (22/1). .(Republika/Republika/ Tahta Aidilla)

Warga melintas di Apartemen Capitol Jakarta Pusat,SCBD, Kamis (22/1). .(Republika/Republika/ Tahta Aidilla)

Foto: Republika/ Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjamin keamanan objek vital kawasan SCBD sebagai pusat kawasan bisnis, bahkan Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengimbau agar para investor tak ragu-ragu menanamkan modalnya di Indonesia.

"Panglima TNI sudah pasti memberikan jaminan keamanan di Indonesia, khususnya dikawasan bisnis," kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI Fuad M Basya, ketika dikonfirmasi di Jakarta Rabu.

Kapuspen mengatakan itu terkait penangkapan dan pemukulan perwira polisi oleh Pom TNI Angkatan Laut di kawasan SCBD beberapa hari lalu, yang berpengaruh terhadap investasi di kawasan bisnis tersebut.

"Dampaknya terhadap perekonomian di kawasan SCBD pasti ada. Oleh karena itu, Panglima TNI meminta maaf terjadinya keributan antara TNI dan Polri dikawasan tersebut," kata Jenderal bintang dua ini.

Panglima TNI, lanjut dia, juga menyesalkan terjadinya pemukulan yang dilakukan oleh anggota TNI AL terhadap tiga anggota Polri, saat melakukan razia gabungan penegakan ketertiban di kawasan SCBD tersebut.

"Ada sekitar 48 personel dari razia gabungan tersebut, yakni Pom AL, Pom AD, Pom AU dan Propam Polri. Namun, disayangkan kenapa terjadi aksi pemukulan dari anggota TNI AL.

Panglima TNI juga menyampaikan permohonan maaf terhadap pemukulan itu," paparnya.

Menurut Kapuspen, peristiwa pemukulan itu terjadinya bukan tanpa sebab, melainkan lantaran tiga perwira Polri enggan menunjukkan identitasnya ketika petugas razia gabungan menanyakan identitasnya.

"Kalau mereka memang anggota Polri, kenapa tidak ditunjukkan identitasnya. Kita kan sama-sama aparat. Ini yang menyebabkan anggota TNI AL naik pitam dan melakukan pemukulan," ujarnya.

Namun demikian, aksi pemukulan anggota TNI AL tetap tidak dibenarkan. Oleh karena itu, Panglima TNI menyesalkan kejadian tersebut.

Pom TNI, kata Kapuspen, saat ini tengah memeriksa para komandan satuan yang melakukan razia penegakan ketertiban dan yustisi di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.

"Apakah sebelumnya sudah melakukan koordinasi dengan Garnisun sebelum melakukan razia di kawasan SCBD? Ini yang tengah diselidiki. Seharusnya ada koordinasi dengan Garnisun karena Garnisun yang mengetahui wilayah mana saja yang patut dirazia," ucapnya.

Sebelumnya, sejumlah personel TNI AL diadukan Polda Metro Jaya tentang dugaan penganiayaan terhadap tiga perwira polisi di salah satu kafe kawasan SCBD, Jakarta Selatan.

"Kami sesalkan tindakan oknum anggota TNI AL, padahal anggota kami dalam rangka dinas," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Heru Pranoto, di Jakarta, Minggu (8/2).

Dia menuturkan pihaknya telah membuat laporan polisi ke Polda Metro Jaya terkait penganiayaan yang dilakukan anggota TNI AL.

Salah satu korban Komisaris Polisi Teuku Khadafi. Dia akan diperiksa bersama beberapa saksi lain.

"Setelah pemberkasan selesai, kami serahkan berkasnya ke PM TNI AL untuk diperiksa internal," kata Pranoto.

Walau begitu, Pranoto mengungkap, personel TNI AL yang diduga terlibat penganiayaan telah menyampaikan permohonan maaf saat pejabat Polda Metro Jaya mengunjungi PM AL.

Sebelumnya, tiga perwira kepolisian, yaitu Khadafi, Komisaris Polisi Budi Hermanto, dan Inspektur Satu Polisi Rovan (anggota Subdit Jatanras Ditrekrimum Polda Metro Jaya) menjadi korban penganiayaan di salah satu kafe kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Jumat dini hari (6/2).

Mereka ada di kafe saat tim gabungan TNI dan Provost Kepolisian Indonesia merazia di kafe itu. Personel TNI dan Kepolisian Indonesia, secara aturan resmi, dilarang nongkrong dan kongkouw di kafe, bar, atau tempat hiburan malam.

Penganiayaan terjadi saat Khadafi menanyakan pimpinan anggota gabungan yang merazia.

Bahkan surat perintah tugas ketiga anggota itu diperlihatkan juga.

"Padahal sudah ditunjukkan (surat tugas) bahwa mereka sedang ada tugas di situ, tetapi mereka tidak percaya," ungkap Pranoto.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA