Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Merindukan Pemimpin Penjaga Nurani Bangsa (2)

Selasa 11 Aug 2015 11:07 WIB

Rep: c14/ Red: Damanhuri Zuhri

Bung Hatta

Bung Hatta

Foto: [ist]

REPUBLIKA.CO.ID, Menurut Anhar Gonggong, Bung Hatta tercatat sebagai doktorandus Ilmu Ekonomi pertama Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam (kini Erasmus Universiteit Rotterdam), Belanda.

Alih-alih meneruskan karier di negeri orang, rasa cintanya untuk melihat Indonesia merdeka membuatnya segera kembali ke Tanah Air, setelah 11 tahun lamanya belajar di Eropa.

Pergerakan nasional menjadi bersatu di bawah kepemimpinan Dwitunggal Sukarno-Hatta. Dua Bapak Bangsa ini mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 serta penyerahan kedaulatan pada 1949.

Setelah Indonesia merdeka, Anhar menceritakan, Bung Hatta tak ambisius untuk menduduki jabatan apa pun. Ambisi Bung Hatta hanyalah demi mewujudkan kemakmuran ekonomi dan mencerdaskan kehidupan rakyat Indonesia seluruhnya. Hal ini tampak dari konsistensinya untuk hidup sederhana.

Anhar menyebut, pernah suatu ketika istri Bung Hatta lama menabung untuk bisa membeli sebuah mesin jahit. Namun, ternyata Nyonya Rahmi Hatta mesti kecewa lantaran uang tabungannya tak mencukupi. Sebab, pemerintah memberlakukan kebijakan sanering atau pemotongan nilai mata uang menjadi 10 persen dari nilai semula.

Anhar menuturkan, saat ditanya, Bung Hatta yang saat itu Wakil Presiden menjawab lembut kepada istrinya: “Ini rahasia negara, Bu. Tidak boleh bocor ke siapapun.” “Itu autentisitas Bung Hatta sebagai pemimpin yang saya kira tidak ada duanya,” ucap Anhar.

Sebagai pejuang prodemokrasi, keteguhan hati Bung Hatta tampak dari momentum peralihan bentuk negara Indonesia, dari negara federasi (RIS) ke negara kesatuan (NKRI) pada 1950. Bung Hatta merelakan jabatannya sebagai Perdana Menteri RIS ikut terhapus.

Demikian pula, sejarawan Anhar Gonggong menjelaskan, ketika pada 1 Desember 1956 Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden lantaran sudah tak sejalan dengan sahabat seperjuangannya, Bung Karno.

“Dia mengatakan Demokrasi Terpimpin yang dirumuskan Bung Karno itu hanya akan seumur dengan usia Bung Karno. Itu ditulisnya dalam (buku) Demokrasi Kita,” ungkap Anhar.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA