Jumat, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Jumat, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Pakar Khawatir LGBT Jadi Agama Baru

Selasa 16 Feb 2016 15:49 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Ilham

Ilustrasi LGBT

Ilustrasi LGBT

Foto: EPA/Mike Nelson

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar khawatir dengan pergerakan kampanye pro-pernikahan sesama jenis yang mulai memasuki Indonesia. Menurut Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Abdul Mujib, kampanye lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) tampil seakan-akan sebagai dogma yang diikuti tanpa penalaran sehat.

Dia menuturkan, sejak 1973, homoseksual tak lagi dicantumkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-II), yang merupakan rujukan bagi psikolog serta psikiater sehingga LGBT tak lagi dianggap sebagai penyakit.

Namun, Abdul Mujib menegaskan, perubahan itu didorong argumen politis ketimbang ilmu pengetahuan. “Kelompok LGBT itu sekarang semacam mazhab baru, atau ‘agama’ baru, yang ingin disosialisasikan ke seluruh dunia. Mereka punya pengikut yang kuat sehingga diperkenankanlah undang-undang pernikahan sejenis,” kata Abdul Mujib saat dihubungi, Selasa (16/2).

Hal yang lebih menakutkan, menurut dia, kampanye LGBT tidak hanya mendorong legalisasi perkawinan sesama jenis, tapi juga beda spesies. Abdul Mujib mencontohkan, di sejumlah negara-negara Barat, mulai ada wacana agar dibentuk regulasi yang mengesahkan perkawinan antara manusia dan hewan.

“Bahkan, yang lebih bahaya lagi, nanti trans-seksual itu. Bukan hanya sejenis, tapi juga, misalnya, manusia dengan kambing atau apa. Kan trans-seksual begitu. Yang umum kan transgender. Tapi, bisa juga trans-seksual.”

Dalam kelimuan psikologi Islam, dia mengungkapkan, kebutuhan seksual hanyalah jalan atau sarana menuju tujuan yang sifatnya lebih sosial, yakni menjaga keturunan. Namun, dalam keilmuan Barat, seks adalah tujuan di dalam dirinya. Dengan begitu, seks masuk ke dalam empat kebutuhan dasar bersama-sama dengan pangan, sandang, dan papan.

“Artinya, (hubungan seksual) dengan apa pun tak masalah. Tapi, kalau dalam Islam, bukan seksnya, tapi menjaga keturunannya. Seks hanyalah sarana,” kata dia.

Karena itu, Abdul Mujib meminta pemerintah untuk segera bertindak tegas terhadap benih-benih kampanye LGBT di Indonesia. Sebab, kata dia, LGBT akan merusak tatanan nilai dan kehidupan sosial, terutama dengan kondisi darurat kekerasan seksual terhadap anak.

“Perilaku sodom, pelecehan seksual terhadap anak itu semakin meningkat nanti. Rata-rata pelaku sodomi itu dulunya pernah disodomi. Itulah saya katakan, perilaku LGBT menular secara sosiologis, bukan biologis, ya.”

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA