Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

HIV AIDS dari Homoseksual Sampai Ibu Rumah Tangga

Jumat 26 Feb 2016 20:05 WIB

Rep: Lintar Satria / Red: Achmad Syalaby

Statistik HIV AIDS di Indonesia

Statistik HIV AIDS di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rinekso Kartono mengatakan saat ini hampir semua orang berpotensi menjadi penderita HIV/AIDS. Bila sebelumnya hanya orang-orang yang berperilaku beresiko seperti pengguna narkoba, pekerja seksual komersial (PSK), bergonta-ganti pasangan, dan homoseksual, saat ini ibu rumah tangga juga rentan terserang HIV.

"Dalam sejarahnya ya memang berasal dari LGBT, tapi sekarang justru ke ibu rumah tangga,"katanya saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (26/2).

Rinekso mengatakan saat ini pertumbuhan angka penderita HIV sangat tinggi di Indonesia. Data yang ada, kata dia, menunjukkan penderita HIV didominasi oleh heteroseksual. "Ya karena jumlah populasi heteroseksual jelas lebih banyak," katanya. 

Penyakit HIV/AIDS, ucap Rinekso, awalnya berkembang di kelompok-kelompok LGBT, pengguna jarum suntik, dan pekerja seks komersial. Kini bahkan sudah menjangkiti ibu-ibu rumah tangga dan bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. 

“Yang paling berbahaya saat ini adalah penularan melalui transfusi darah yang tidak steril. Semua orang saat ini bahkan berpotensi tertular karena semakin besar jumlah penderita, semakin besar pula resiko orang tertular, terutama melalui transfusi darah,” ujarnya.

Ia menjelaskan tidak bisa sepenuhnya menghapus sumber-sumber penyakit ini, misalnya menghilangkan lokalisasi. Menurut dia, yang harus dilakukan adalah membatasi. Rinekso menjelaskan dalam sejarahnya lokalisasi di Eropa mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama sebagai sebuah tempat yang mengurung penyakit kelamin. Fungsi kedua untuk melindungi masyarakat dari predator seksual. 

“Yang kita bisa saat ini ya hanya membatasi gerak mereka dan memberikan aturan dalam perbatasan tersebut. Mau menghilangkan seluruhnya ya hampir mustahil karena itu adalah problem sosial yang selalu ada setiap saat,” katanya.

Masyarakat juga tidak perlu melakukan upaya diskriminasi terhadap para penderita ODHA. Perlunya pendampingan dan dukungan sosial terutama dari keluarga menjadi saran penting agar memperlakukan ODHA secara manusiawi. 

“Perlu diambil langkah-langkah untuk mencegah perkembangan HIV/AIDS di Indonesia, dengan cara mengedukasi ODHA untuk terbuka pada pasangan seksualnya, konsisten menggunakan kondom dalam hubungan seks, menjauhi narkoba terutama dalam menggunakan jarum suntik secara bergantian, dan mengontrol tempat-tempat yang berpotensi sebagai sumber-sumber penyakit ini,” tutur Rinekso.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA