Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Kepala BNPT: ISIS Lebih Bahaya daripada Alqaidah

Kamis 31 Mar 2016 19:10 WIB

Red: Citra Listya Rini

Para militan ISIS (ilustrasi).

Para militan ISIS (ilustrasi).

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID,‎ SOLO -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito Karnavian menilai, kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) lebih bahaya daripada kelompok Alqaidah. ISIS memiliki teritorial sehingga memiliki sistem dan jaringan.

"Sekarang mereka memiliki daerah untuk menerapkan dan membangun network itu seakan ISIS itu adalah Daulah Islamiyah yang ditunggu-tunggu sehingga semua berangkat ke sana. Dari Eropa, Afrika, Australia, Asia, bahkan dari Indonesia sudah lebih 500 orang berangkat sana,” kata Tito dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Kamis (31/3).

ISIS adalah gabungan dua kelompok utama, yaitu kelompok tauhid wal jihad di Irak yang didirikan Abu Muhammad Magdisi, dilanjutkan Abu Mussaf Jarkawi, yang kemudian mengenalkan doktrin baru doktrin takfiri. Setelah itu, dilanjutkan muridnya, pendiri ISIS Abubakar al-Baghdadi. 

Selain itu, ISIS juga meniru konsep perang Nabi Muhammad SAW. Seperti hijrah, mereka lakukan dari berbagai negara ke Suriah. Nabi Muhammad menjadikan Madinah sebagai Qoidah Aminah. ISIS menggunakan Suriah sebagai Qoidah Aminah sehingga mereka juga mengenal ada Anshar. Mereka juga menerjemahkan cara-cara nabi itu dengan kondisi saat ini.  

Lebih bahaya lagi, ISIS menggunakan doktrin takfiri dengan konsep tauhid. Artinya, bagi orang yang tidak menggunakan konsep mereka, dianggap boleh dihancurkan atau dibunuh. "Kita dapat tumpahannya. Ingat tahun 2012 masjid di Cirebon meledak oleh bom bunuh diri saat shalat Jumat. Jamaah Islamiyah tidak melakukan itu, tapi bagi ISIS bisa melakukan itu kepada orang-orang yang tidak mau ikut mereka,” kata Tito.

Keberadaan ISIS inilah yang membuat BNPT harus bekerja keras membendung masuknya paham mereka ke bumi pertiwi. Apalagi, mereka telah menggunakan jaringan untuk melancarkan aksi dan merusak ideologi bangsa. Munculnya internet, membuat ideologi mereka semakin keras dan memunculkan adanya self radicalitation atau menjadi radikal tanpa guru. Juga munculnya fenomena lone wolf, yaitu berani melakukan serangan sendirian, seperti seekor serigala.

Dalam konteks ini, kata Tito, ideologi bisa kalah hanya oleh ideologi itu sendiri. Ideologi tidak bisa kalah oleh kekerasan. Itulah yang menjadi dasar BNPT dalam menjalankan pencegahan di Indonesia, termasuk menggandeng imam masjid dan dai muda untuk memenangkan perang ideologi dan agama. Harapannya, melalui imam masjid dan dai, para penganut paham radikal terorisme bisa melunak dan kembali ke ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA