Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Cerita Sandera di Sarang Abu Sayyaf

Ahad 15 Mei 2016 10:37 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nur Aini

  Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (tengah) memberikan keteranga pers didampingi Empat sandera Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (13/5).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (tengah) memberikan keteranga pers didampingi Empat sandera Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (13/5).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, PANGANDARAN -- Warga Kabupaten Pangandaran yang menjadi korban penyanderaan kelompok militan Abu Sayyaf, Dede Irfan Hilmi telah dipulangkan ke rumahnya di Desa Ciparanti, Kecamatan Cimerak, Sabtu (15/5) malam. Saat dalam penyanderaan ia diperlakukan seperti sandera yang lainnya.

Dede mengatakan, saat disandera diikat di pohon di dalam hutan dengan sandera yang lainnya. Tidak ada kebebasan bagi sandera karena diikat dan dijaga. Saat makan pun diberi makan nasi bekas.

"Hanya saat waktu shalat dibebaskan," kata Dede kepada Republika.co.id, Sabtu (14/5) malam.

Selama dalam penyanderaan, dikatakan Dede, yang pasti menderita. Ia menyadari dirinya bukan tamu kelompok militan Abu Sayyaf. Saat diperlakukan kurang baik pun menjadi hal yang wajar. Namun, Dede mengaku, kelompok Abu Sayyaf tidak ada yang memukul dirinya.

Saat dalam penyanderaan, Dede juga tidak mengerti apa yang dibicarakan kelompok militan Abu Sayyaf. Sebab, bahasanya berbeda. Saat disandera, menurutnya, ada sekitar 200 orang yang menjaga para sandera. Mereka bersenjatakan lengkap.

Dede menceritakan awal mula dirinya dan temannya ditangkap kelompok militan Abu Sayyaf. Ketika kapal yang ia bawa melintas di perairan perbatasan antara Kalimantan dengan deretan pulau di Filipina. Saat itu kapal sedang membawa muatan batu bara dengan sebuah tongkang dan kapal tagboot.

"Tiba-tiba ada sebuah kapal merapat ke kapal kami dengan pasukan bersenjata lengkap, yang kami kira adalah pasukan tentara yang sedang berpatroli," ujar Dede.

Kemudian, Dede beserta temannya digiring dan dibawa ke sebuah pulau. Tapi, tidak pernah ada perlakuan kasar selama disandera. Ia juga mengaku, sebagai pelaut tidak akan kapok untuk berangkat berlayar lagi, meski pernah di sandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf.

"Saya akan tetap akan berangkat berlayar lagi‎," ujarnya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA