Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Pengamat Ingatkan Waspadai Jaringan Santoso di Luar Poso

Rabu 14 Sep 2016 20:26 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Angga Indrawan

Kelompok Santoso (ilustrasi)

Kelompok Santoso (ilustrasi)

Foto: Republika/Mardiah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tertangkapnya Basri, salah seorang pentolan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dinilai merupakan awal kehancuran kelompok yang beroperasi di wilayah Poso dan sekitarnya. Kendati demikian, menurut pengamat terorisme dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, aparat keamanan dan masyarakat harus mewaspadai jaringan yang selama ini berinteraksi dengan kelompok tersebut, khususnya personil yang masih aktif di luar Poso.

Jaringan tersebut, kata dia, lebih terkonsentrasi di Jawa dan Nusa Tenggara. "Jejaring yang selama ini berinteraksi dengan mereka, terkait komunikasi, suplai logistik dan personil masih aktif di luar Poso. Ini yang harus diwaspadai. Dari dalam negeri, jejaring itu tetap lebih terkonsentrasi di Jawa dan Nusa Tenggara. Ini yang masih berpotensi aktif dan berkiprah di luar Poso," jelas Khairul, Rabu (14/9).

Menurut dia, kelompok di Poso sendiri bukan merupakan kelompok yang besar. Pasca-tewasnya Santoso, jaringan ini dinilai mengalami kesulitan konsolidasi. Akses mereka dengan dunia luar pun tertutup setelah pasukan operasi Tinombala semakin bergerak rapat.

Lebih lanjut, Khairul menyampaikan aparat keamanan perlu lebih memperhatikan jaringan di wilayah Nusa Tenggara. Sebab, kata dia, kelompok di daerah tersebut memiliki kedekatan secara emosional dengan kelompok Santoso.

Kendati demikian, jumlah simpatisan dari kelompok yang berada di Jawa pun tergolong lebih besar. Karena itu, potensi berkembangnya kelompok di Jawa juga sangat besar.

"Bagaimanapun target dan kantong-kantong simpatisan lebih besar di sini (Jawa). Sebagian besar mereka belum tertangkap dan peluangnya berkembang sangat besar jika pola penanggulangan terorisme kita masih seperti sekarang," kata Khairul.

Khairul pun menyoroti pola penanggulangan terorisme, termasuk program deradikalisasi. Menurut dia, program ini tak dapat menjangkau kelompok-kelompok yang rentan dan hanya cenderung bersifat seremoni.

Selain itu, kemampuan deteksi dini juga dinilainya belum menjangkau stakeholders keamanan di level terendah dan juga terluar.

"Juga soal kewaspadaan masyarakat. Alih-alih memberi wawasan yang memadai tentang ancaman terorisme lalu bagaimana antisipasi dan respon yang diharapkan, informasi yang disampaikan seringkali malah hanya menimbulkan kepanikan, kegaduhan yang justru kontra produktif," jelas dia.

Seperti diketahui, Basri yang merupakan pemimpin kelompok MIT telah ditangkap oleh satgas Tinombala di pedalaman Poso pada Rabu (14/9) pukul 10.00 WITA. Penangkapan inipun telah dibenarkan oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Menurut Tito, dengan tertangkapnya Basri akan semakin melemahkan kelompok teroris MIT.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA