Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

741 Orang Ibu di Jabar Meninggal Saat Melahirkan

Rabu 28 Sep 2016 14:21 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ilham

Kematian ibu melahirkan (Ilustrasi)

Kematian ibu melahirkan (Ilustrasi)

Foto: wordpress.com

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kasus kematian ibu melahirkan di Jabar cukup tinggi. Hingga paruh kedua 2016 ini, jumlah kematian mencapai 741 orang dari 950 ribu ibu yang melahirkan dengan selamat di Jabar. Rasio kematian ibu melahirkan dua orang per hari.

"Sehari di Jabar ada dua ibu hamil meninggal dunia. Ini, sungguh menyedihkan harus preventif untuk menurunkan angka ini," ujar Kepala Dinas Kesehatan Jabar, Alma Lucyati, saat membuka acara Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang digelar Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI), Rabu (28/9).

Menurut Alma, ada 10 kabupaten di Jabar penyumbang angka kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi. Di antaranya di Majelengka, Indramayu, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Garut.

"Kami prioritaskan angka penurunan kematian ibu dan bayi ke lima daerah, salah satunya, Indramayu," katanya.

Alma mengatakan, untuk menekan angka kematian ibu dan anak, Pemprov Jabar tak bisa melakukan seorang diri. Mengingat, jumlah penduduk yang cukup besar. Saat ini, jumlah penduduk di Provinsi Jabar mencapai 46 juta atau sekitar 20 persen penduduk Indonesia ada di Jabar.

"Pemerintah, bagaimana pun juga tak bisa sendiri. Jadi, harus bekerja sama dengan institusi yang ada di masyarakat," katanya. Alma pun mengapresiasi, upaya APPI yang fokus membuat program untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. "APPI sangat fokus memperhatikan ibu hamil, bayi dan balita, kami sangat berterima kasih," katanya.

Sementara, menurut Ketua Umum APPI, Giwo Rubianto Wiyogo, angka kematian ibu di Indonesia sudah memperihatinkan. Berdasarkan data, setiap hari sebanyak 40 ibu mati sia-sia di Indonesia. Di Jabar sendiri, setiap hari ada dua ibu yang melahirkan meninggal.

"Penyebab kematian ibu itu ada empat terlalu. Yakni, menikah terlalu muda, melahirkan sudah terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak," katanya.

Giwo menilai, saat ini belum semua masyarakat peduli pada upaya penurunan angka kematian ibu. Bahkan, masih ada stigma terkait ibu melahirkan. Misalnya, hal biasa ibu yang meninggal melahirkan mati syahid. "Ada juga yang menggap sudah risiko. Memang, kehamilan bisa mengurangi risiko kematian," katanya.

Penyebab lain kematian ibu saat melahirkan karena terlambat mengetahui risiko kehamilan, terlambat memutuskan untuk normal atau operasi, dan terlambat ke poliklinik atau rumah sakit. "Biasanya, terlambat membawa ke poliklinik atau rumah sakit terjadi di daerah tertinggal," katanya.

Seharusnya, kata dia, masyarakat, dunia usaha, keluarga dan pemerintah bisa membuat suasana yang kondusif bagi ibu hamil. Yakni, bagaiman membuat ibu hamil sehat dan membantu menurunkan angka kematian. "Kalau semua masyarakat peduli, nantinya bisa menekan angka kematian ibu," katanya.

Untuk menyadarkan masyarakat, kata dia, APPI melakukan pelatihan bagi para kader sampai grass root atau tingkat kecamatan sampai pedesaan. Yakni, ada pendampingan para kader. Agar kader ini terus mengedukasi pada masyarakat bagaimana menjaga kehamilannya, termasuk waspada dengan risiko kehamilan, memberikan pendampingan pada ibu hamil, dan memberikan informasi sejak usia dini sampai melahirkan.

"Misalnya, ibu hamil ada yang susah makan agar semangat makan jadi makan nasi dan iklan asin, padalah itu bisa menyebabkan preklamasi," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA