Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Gempa Kali Ini Lebih Mengerikan Dibanding 2004

Kamis 08 Dec 2016 20:39 WIB

Red: Indira Rezkisari

Pasien korban gempa baru tiba di RSUD Meureudu, Pidie Jaya, NAD, Kamis (8/12).

Pasien korban gempa baru tiba di RSUD Meureudu, Pidie Jaya, NAD, Kamis (8/12).

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, MERDU -- Bagi Rajali (60), warga Masjid Tuha, Kecamatan Merdu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, musibah gempa tektonik 6,5 Skala Richter pada Rabu (7/12) pagi itu jadi pengalaman menyeramkan seumur hidupnya.

Pasalnya goyangan gempa itu berbeda dengan gempa besar pada 2004 yang disertai dengan tsunami. Hal itu dirasakan pula oleh sejumlah warga lainnya.

"Gempa ini benar-benar dikocok dihempas berulang kali sambil suaranya kencang sekali. Merangkak saja saya tidak bisa," katanya menceritakan musibah itu kepada Antara di posko pengungsian yang didirikan warga di Masjid Tuha, Merdu, Kabupaten Pidie Jaya, Kamis malam (8/12). Sedangkan gempa besar pada 2004, tubuh kita seakan-akan diayun-ayun saja.

"Saya sampai sekarang masih takut, belum berani pulang. Lebih baik tidur di luar rumah saja. Rumah saya juga rusak," katanya menerawang.

Trauma akan terulangnya musibah itu, dialami pula oleh Nadar (38) yang berprofesi pekerja bangunan, karena lantai rumahnya bolong dalam waktu sekejap sembari sebagian dinding rumahnya retak-retak.

"Saat kejadian itu, saya masih tertidur pulas, guncangan itu membangunkan saya lari ke luar sambil sempoyongan," katanya.

Saat ke luar dari rumah, sudah banyak warga yang panik dan berteriak-teriak 'Gempa-gempa'. "Saya sendiri merasakan sekitar beberapa detik saja, tapi guncangannya sangat kuat," katanya. "Saya belum berani tidur di dalam rumah, gempa masih terjadi," katanya yang merelakan diri bersama keluarganya tidur di posko pengungsian.

Kaeuchik Gampong Masjid Tuha, Djunaedi, menyebutkan pengungsi di posko wilayahnya itu berasal dari tiga dusun, Dunusu, Lhonga dan Mesjidhwa. "Ini tiga dusun satu kelurahan dengan 540 kepala keluarga, sekitar 400 rumah. Mereka masih mengungsi karena trauma," katanya.

Sementara itu, Muslim, warga Gampong Pengwa, mengaku mengalami pengalaman serupa adanya guncangan gempa disertai suara kencang. Saya kaget juga gempa kali ini, beda dengan sebelumnya, kata bapak dua orang anak ini. "Sekarang masih terjadi sesekali gempa, saya masih takut saja," tuturnya.

Gempa bumi tektonik terjadi di Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu pagi pukul 05.03 WIB dengan kekuatan sebesar 6,5 SRl. Gempa di Pidie, Aceh terjadi pada titik 5,25 derajat LU dan 96,24 derajat BT, di mana pusat gempa terjadi di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km.
Gempa Pidie menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur jalan dan rumah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA