Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Angka Kematian Ibu Tinggi di Sekitar Pabrik Sukabumi

Senin 27 Feb 2017 17:22 WIB

Rep: Riga Iman/ Red: Winda Destiana Putri

Kemiskinan ikut mendorong tingginya angka kematian ibu

Kemiskinan ikut mendorong tingginya angka kematian ibu

Foto: Edwin/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Angka kematian ibu di Kabupaten Sukabumi masih cukup tinggi. Pasalnya, pada 2016 lalu masih ditemukan puluhan kasus ibu meninggal pada saat melahirkan.

"Pada 2016 ada 60 orang ibu meninggal pada saat melahirkan," ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi Ela Karmila kepada Republika Senin (27/2). Hal itu disampaikan selepas acara pembukaan rapat kerja saka bhakti husada tingkat Sukabumi dan sosialisasi program penyelamatan ibu dan bayi melalui krida bina keluarga sehat di Hotel Augusta, Kecamatan Cicantayan.

Jumlah kematian ibu melahirkan tersebut terang Ela tidak terlalu tinggi bila dilihat dari per seribu jumlah penduduk. Mayoritas kasus kematian ibu melahirkan itu terang dia akibat pendarahan.

Ela menerangkan kasus kematian ibu melahirkan kebanyakan berada di kawasan utara Sukabumi. Tepatnya, di kawasan sekitar pabrik yang banyak terdapat di utara Sukabumi. Diduga, ibu hamil tersebut jarang datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pengecekan kondisi kehamilannya.

Menurut Ela, pemkab berupaya menekan kasus kematian ibu pada saat melahirkan di bawah 60 orang atau 30 kasus per tahunnya. "Inginnya tidak ada satu pun yang meninggal karena melahirkan," cetus dia.

Oleh karena itu kata Ela, program penyelamatan ibu dan bayi akan terus diupayakan. Kalaupun meninggal lanjut dia hal itu sudah kuasa Allah akan tetapi upaya pemerintah harus optimal.

Jangan sampai ungkap Ela, kasus ibu meninggal itu dikarenakan kesalahan baik dari petugas penolong, keluarga, atau dari masyarakat yang menolak dirujuk ke fasiltas kesehatan. Intinya lanjut dia pada tahun ini diupayakan tidak ada lagi ibu yang melahirkan di rumah baik oleh tenaga dukun beranak maupun petugas kesehatan.

Pasalnya sambung Ela, upaya persalinan harus harus dilakukan ditempat yang terdapat fasilitas memadai seperti puskesmas poned. Upaya ini dilakukan agar penanganan dan penyelematan ibu dan bayi cepat tertangani.

Di sisi lain ungkap Ela, petugas Dinkas dan puskesmas cukup terbatas. Sehingga lanjut dia petugas melibatkan pelajar yang tergabung dalam saka bhakti husada untuk membantu penyebarluasan informasi mengenai masalah tersebut.

Bupati Sukabumi Marwan Hamami mengatakan, pelibatan saka bhakti husada ini memang diakibatkan kekurangan tenaga di puskesmas dan dinas kesehatan. "Peran pramuka melalui kesakaan ini untuk memantau anak-anak yang kekurangan gizi terutama pada tahapan kehamilan," ujar dia.

Terutama kata Marwan dengan mendorong agar ibu yang hamil agar rutin melakukan pengecekan kesehatan ke sarana kesehatan seperti posyandu. Upaya itu akan menekan kasus kematian ibu pada saa melahirkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA