Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Cegah Kasus Kekerasan Seksual dengan Terapkan Sekolah Ramah Anak

Selasa 21 Mar 2017 22:34 WIB

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Winda Destiana Putri

Sejumlah murid Taman Kanak-kanak bermain di taman Langsat, Jakarta.

Sejumlah murid Taman Kanak-kanak bermain di taman Langsat, Jakarta.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tengah mengembangkan penerapan sekolah ramah anak di semua lembaga pendidikan di Jawa Barat. Sekolah ramah anak dinilai dapat menjadi salah satu upaya mengantisipasi kasus pedofilia atau kekerasan seksual yang saat ini tengah marak terjadi.

Hal ini dikatakan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (21/3). Menurut Heryawan sekolah harus dibuat menjadi layaknya rumah kedua bagi anak-anak sehingga terhindar dari aktivitas yang membahayakan. "Kita lagi menerapkan mau bikin di seluruh sekolah kita jadikan sekolah ramah anak. Kita jadikan sekolah jadi rumah kedua," kata Heryawan.

Aher, sapaan akrabnya, mengatakan dengan demikian akan timbul keakraban dengan teman-teman sebaya di lingkungan sekolah. Sehingga waktunya tidak dihabiskan berselancar di dunia maya yang menjadi menjadi salah satu media kasus kekerasan seksual bisa terjadi.

Selain itu keakraban juga paling penting harus terjalin dengan orangtua. Sehingga ketika ada masalah atau ancaman kekerasan seksual, anak bisa mudah bercerita kepada orangtuanya. "Untuk terhindar dari narkoba, pedofilia itu keakraban karena kalau si anak akrab dengan orangtuanya terus curhat maka nggak ada masalah. Yang khawatir justru karena dengan orangtua kurang akrab, guru kurang akrab kemudian curhatnya ke Facebook padahal teman (dunia maya) membahayakan," ujarnya.

Ia pun mengimbau generasi muda untuk tidak terlalu bebas bermain media sosial. Bahkan mencoba bertemu dengan teman dunia mayanya yang baru dikenal. Sebab, ujarnya, pertemuan dari dunia maya berpeluang besar pada penipuan. Yang nantinya justru mengancam keselamatan anak-anak.

Hal ini dikatakannya berdasar pada beberapa kasus pelajar yang bertemu teman di dunia maya kemudian justru diperlakukan tidak senonoh. "Anak-anak boleh kenal Facebook (medsos) tapi kenalan, berteman lebih jauh di Facebook itu jangan. Makanya bilang jangan mau ketemu sama teman di Facebook khawatir menipu karena aki-aki (kakek) bisa berwajah muda," tuturnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA