Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Ahok Klaim Sebut Al-Maidah karena Ibu-Ibu tak Antusias

Selasa 04 Apr 2017 21:42 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ilham

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memasuki ruang persidangan kasus dugaan penistaan agama oleh PN Jakarta Utara di Auditorium Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (4/4).

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memasuki ruang persidangan kasus dugaan penistaan agama oleh PN Jakarta Utara di Auditorium Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (4/4).

Foto: Republika/ Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengungkapkan, salah satu alasan dirinya teringat dengan surat Al-Maidah ayat 51 setelah melihat tidak antusias para ibu di sosialisasi budidaya ikan kerapu di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, 27 September 2016 lalu. Padahal,  menurut Ahok, program yang ditawarkan Pemprov DKI sangatlah menguntungkan.

Melihat respon warga, dirinya langsung berpikir warga Kepulauan Seribu tidak antusias karena adanya seruan serta selebaran larangan memilih pemimpin non-Muslim yang mengutip surat Al-Maidah .

Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarto langsung menanyakan, apakah bisa dipastikan, para ibu yang tidak antusias saat mendengar pemaparan program karena asumsi pejawat itu. "Ibu itu, apakah (anda) bisa memastikan dia tidak memilih saudara karena surat Al-Maidah? Kalau dia hanya menyampaikan kesimpulan, hanya akibat. Penyebab ibu itu takut tidak cerita kan. Ibu itu baca selebaran gak?" tanya Dwiarso di Auditorium Kementerian Pertanian, Jalan Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (4/4)

"Enggak yang mulia," jawab Ahok.

"Kalau saudara mengulang kejadian waktu itu, ada ibu-ibu itu, itu harusnya dipastikan apakah sama (dengan pidato di Kepulauan Seribu). Tapi saudara tidak pernah nanya ke ibu itu?" tanya hakim lainnya.

"Karena asumsi saya mereka harusnya tahu karena di TV sering disiarkan demo. Demo tiap Jumat oleh Rizieq (Rizieq Shihab FPI)," kata Ahok.

Pasalnya, kata Ahok, sejak dirinya diangkat menjadi Gubernur DKI menggantikan Joko Widodo pada 2014, Rizieq dan kawan-kawan kerap melakukan demonstrasi menentang kepemimpinan Ahok setiap hari Jumat. Bahkan, Imam Besar FPI itu juga menyiapkan gubernur tandingan.

Padahal, kata Ahok, surat Al Maidah tidak pernah menyebutkan tidak boleh memilih pemimpin non-Muslim. "Tapi Rizieq selalu bilang begitu sehingga membuat gubernur tandingan Muslim. Bagi saya Rizieq itu pembohong," ujar Ahok dengan nada meninggi.

Selain itu, Ahok juga menjelaskan, bahwa dia terbiasa berbicara apa yang terlintas di benak. "Saya tak ada jeda dalam pidato yang saya sampaikan. Saya pidato gak pernah pakai eee hmm, mikir. Di event apa saja, saya langsung bisa pidato," kata Ahok.

Hakim kemudian menanyakan alasan Ahok memakai kata 'Iya, kan?' saat mengutip surat Al Maidah ayat 51. Karena, kalimat pertanyaan itu digunakan untuk mendapatkan jawaban positif.

Menjawab pertanyaan hakim, Ahok mengaku saat itu dirinya ingin memastikan alasan para ibu tersebut yang tidak antusias. Mantan Bupati Belitung Timur itu ingin melihat secara jelas mimik dari para ibu tersebut. "Saya lihat apakah gara-gara ini (Al Maidah ayat 51) bukan, makanya saya ingin pastikan apakah ini terkait gubernur palsu, bukan? Saat buka pertanyaan, dia juga diam," kata dia.

Bahkan, sambung Ahok, pada saat itu, Bupati Kep Seribu Budi Utomo sempat mengingatkan ke Ahok kalau waktu yang tidak lama. Namun Ahok bersikeras untuk tetap memanjangkan waktu agar si ibu bersuara. Sayangnya pertanyaannya selalu disela. "Jadi sampai selesai tidak ada konfirmasi?" tanya hakim.

"Sampai foto dengan saya dia beda. Kalau bapak perhatikan ibu-ibu yang oke dia rangkul saya oke, kalau ibu-ibu tadi dia foto, jauh sama saya," jawab Ahok.

Ahok didakwa melakukan penodaan agama karena mengutip surat Al-Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Ahok dengan dakwaan alternatif antara Pasal 156 huruf a KUHP atau Pasal 156 KUHP.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA