Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Pesona Pantai Hutan Mangrove Desa Tasik di Kubu Raya

Rabu 12 Apr 2017 17:51 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Hutan Mangrove

Hutan Mangrove

Foto: .

REPUBLIKA.CO.ID, KALBAR -- Panorama indah tersaji di pantai Desa Tasik Malaya, Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, yang berada tidak jauh dari laut. Selain bentangan pasir, di pantai tersebut juga dapat disaksikan keindahan tumbuhan hutan mangrove.

"Ini merupakan salah satu potensi yang kami miliki dan perlu dikembangkan dan dukungan, khususnya oleh pemerintah," kata Kepala Desa Tasik Malaya Samiril kepada Antara saat mengunjungi pantai tersebut.

Di pantai yang masih alami itu, pengunjung juga dapat menyaksikan hewan liar yang hidup bebas, seperti kera, elang laut paruh putih, dan suasana matahari terbenam (sunset). Hal itu menjadi daya tarik wisata pantai di Desa Tasik Malaya tersebut.

"Namun sangat disayangkan Desa Tasik Malaya yang menyimpan banyak potensi, salah satunya ekowisata pantai indah itu, hingga kini belum terkelola maksimal," katanya.

Antara Kalbar berkesempatan berkunjung ke ekowisata pantai indah pada sore hari. Dari tempat itu bisa melihat secara langsung dan menikmati matahari terbenam. Pantai itu berhadapan langsung dengan laut lepas.

Dengan didampingi Kepala Desa Tasik Malaya, Samiril dan perangkat desa lainnya, rombongan wartawan berkunjung ke ekowisata pantai yang diberi nama "Pantai Panorama Indah" yang terletak persis di belakang Kantor Desa Tasik Malaya itu.

Untuk menuju ke "Pantai Panorama Indah", pengunjung apabila dari Desa Tasik dengan menggunakan sepeda motor hanya menempuh perjalanan lima menit. Dengan panjang pantai mencapai lebih dari 300 meter, rombongan wartawan tersebut dapat menyaksikan keindahan pantai dengan segala pesonanya.

"Rencananya ke depan keindahan pantai ini akan kami wujudkan sebagai destinasi ekowisata andalan. Melihat potensi pantai ini saya yakin jika dikelola maksimal bisa sebagai promosi Tasik Malaya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat," katanya.

Diakuinya bahwa persoalan yang dihadapi dalam pengembangan lokasi ekowisata adalah akses transpotasi. Desa itu berada di tepi laut sehingga ketika air surut, speedboat sulit masuk. "Kami berharap pemda bisa menyediakan fasilitas feri penyeberangan dari Dabong ke Padang Tikar," ujarnya.

Ia menambahkan jika akses penyeberangan dapat dibangun, untuk menuju Tasik Malaya akan menjadi mudah. "Jika menggunakan speedboat 40 PK, biaya dari Rasau ke sini bisa Rp 500 ribu. Kalau dengan speedboat 200 PK uang yang dikeluarkan sekitar Rp2 juta. Biaya perjalanan lumayan besar," ungkapnya.

Staf lapangan Sampan, Singlum, optimistis ke depan wisata setempat bisa dikembangkan menjadi andalan masyarakat. Singlum menjelaskan bentang pesisir Padang Tikar terbentuk karena proses alam akibat sedimentasi. Wilayah itu selain berada di pinggir laut juga memiliki mangrove dan beberapa bagiannya gambut. "Ini yang menjadi salah satu kelebihan dan keunikannya," terangnya.

Beberapa spesies endemik juga ada di tempat itu, seperti Bekantan, Pesut, Penyu Sisik, dan Enggang Gading. Ia mengemukakan bahwa terkait dengan optimalisasi ekowisata itu memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Untuk mewujudkan ekowisata, ujarnya, mesti ada kesiapan dan partisipasi masyarakat sebagaimana saat ini sambutan mereka terhadap wisatawan sudah bagus. "Pantainya indah dan menjanjikan untuk dikembangkan. Di sini pengunjung bisa melihat secara langsung masuknya matahari ke air laut atau sunset di pantai yang masih alami ini," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA