Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Tekan Kasus, KPA Sukabumi Sisir Pemeriksaan HIV di Kelompok Berisiko

Jumat 12 May 2017 17:03 WIB

Rep: Riga Iman/ Red: Winda Destiana Putri

HIV/AIDS

HIV/AIDS

Foto: pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi menggiatkan pemeriksaan HIV di kalangan beresiko tinggi. Upaya ini untuk menekan laju pertumbuhan kasus HIV-AIDS di tengah masyarakat.

"Kami sudah bergerak ke kelompok berisiko tinggi terkena HIV untuk menjalani pemeriksaan voluntary counseling and testing (VCT)," ujar Ketua KPA Kota Sukabumi Achmad Fahmi kepada wartawan Jumat (12/5). Selain itu lanjut dia warga yang beresiko tinggi tersebut diajak untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin di sejumlah sarana kesehatan yang disediakan pemerintah.

Upaya ini lanjut Fahmi mendapatkan dukungan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) dan lembaga penelitian sosial dan agama (Lensa). Sementara sasaran pemeriksaan antara lain pengguna narkoba suntik (penasun), wanita pekerja seksual (WPS), waria, dan kalangan lelaki suka lelaki (LSL).

Fahmi menuturkan, para anggota kelompok berisiko tinggi ini juga diminta untuk melakukan sejumlah langkah pencegahan agar tidak terkena HIV. Sehingga lanjut dia kasus baru HIV di Sukabumi bisa ditekan.

Menurut Fahmi, kasus HIV secara akumulatif sejak 2000 hingga Maret 2017 mencapai sebanyak 1.127 kasus. Sementara pada Januari hingga Maret tercatat sebanyak 35 kasus baru HIV.

Kepala Dinkes Kota Sukabumi Ritanenny menambahkan, pemeriksaan kesehatan terhadap warga yang berisiko tinggi tertular HIV dilakukan secara gratis di beberapa tempat layanan kesehatan. "Kami menyiapkan fasilitas klinik di 15 puskesmas, Labkesda, dan empat rumah sakit," imbuh dia.

Selain itu lanjut Rita, Dinkes juga siap mengerahkan mobile VCT ke sejumlah lokasi yang menjadi target pemeriksaan HIV. Hasil dari pemeriksaan di lapangan sejak Januari lalu ungkap dia tercatat dua orang dengan HIV-AIDS (ODHA) meninggal dunia.

Rita menerangkan, kematian pada ODHA itu bukan karena HIV atau AIDS. Melainkan terang dia akibat penyakit-penyakit yang muncul pada masa AIDS yang disebut infeksi oportunistik seperti diare, TBC, dan lain lain.

Ditambahkan Rita, gencarnya pemeriksaan HIV oleh tim gabungan ke populasi kunci atau komunitas yang berisiko tinggi membawa dampak positif. Terutama kata dia dalam upaya penanganan kepada penderita HIV-AIDS dan pencegahan penyebarannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA