Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

ICMI Minta Masyarakat Patuhi Imbauan Jokowi

Rabu 17 May 2017 19:12 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Bayu Hermawan

Jimly Asshiddiqie

Jimly Asshiddiqie

Foto: Republika/ Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat untuk menghentikan gesekan-gesekan di masyarakat. Presiden juga meminta masyarakat untuk menyudahi mobilisasi massa agar tidak terjadi perpecahan.

Terkait itu, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia meminta publik agar mematuhi imbauan Kepala Negara tersebut.

"Kita harus (mematuhi imbauan Presiden Jokowi) karena ini masalah serius. Jadi, cobalah mengurangi pertengkaran, kebencian, kemarahan. Mari rekonsiliasi sebagai sesama warga bangsa. Apalagi, kita mau memasuki Ramadhan, kita tazkiyatun nafs, membersihkan diri," ujar Ketua Umum ICMI Prof Jimly Asshiddiqie saat dihubungi, Rabu (17/5).

Jimly berpendapat, masalah mobilisasi massa serius karena mulai ada indikasi fragmentasi sosial. Misalnya, kata dia, ketika kehadiran wakil ketua DPR-RI Fahri Hamzah ditolak oleh sekelompok massa di provinsi tertentu. Jimly menyayangkan bila penolakan ini terjadi dengan membawa-bawa identitas keagamaan.

"Mau jadi apa bangsa kita kalau hanya berbahasa dari segi agama masing-masing? Makanya, mari kita berbahasa Indonesia, jangan berbahasa agama masing-masing dalam rangka bernegara," tegasnya.

Jimly juga meminta para tokoh umat Islam agar semakin mendukung keutuhan Indonesia. Dia berharap, pembahasan internal masalah-masalah keumatan berlangsung tanpa menimbulkan polemik yang tak perlu. Apalagi, keberadaan intenet membuat hampir semua percakapan dapat menyebar luas secara cepat dan masif.

"Medsos (media sosial) itu membuat tak ada lagi pembicaraan internal yang tidak keluar. Nah itu yang mesti hati-hati. Sesuatu yang biasa dibicarakan di dalam, tiba-tiba ke luar. Apalagi misalnya, kalau ada seseorang berpidato mengatasnamakan seluruh umat Islam. Padahal, pendapat dia belum tentu orang lain (Muslim) setuju," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA