Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

32 IKM Garam di Jabar Gulung Tikar

Rabu 12 Jul 2017 23:05 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Ladang garam, ilustrasi

Ladang garam, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Asosiasi Petani Garam Seluruh Indonesia (Apgasi) Jawa Barat mencatat sekitar 32 industri kecil menengah (IKM) di bidang produksi dan pengolahan garam harus gulung tikar akibat gagal panen sepanjang 2016.

"Banyak IKM yang tutup seperti di Cirebon dan Indramayu. Cirebon 25 IKM, Indramayu 7 IKM tutup sejak bulan Maret 2017. Ini akibat cuaca buruk sepanjang 2016," ujar Ketua Apgasi Jabar M. Taufikkrahim saat dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (12/7).

Taufik mengatakan, IKM yang tutup seperti di wilayah Bendungan, Rawa urip, dan Cigebang. Hal ini membuat sekitar 620 pekerja di sektor pengolahan dan produksi garam terpaksa menganggur. "Sekitar 20 hingga 30 pekerja IKM kini menganggur tanpa ada penghasilan. Negara ini dalam keadaan kritis. Garam itu belum ada penggantinya," kata dia.

Hal ini pun membuat sekitar 2 ton ikan di Cirebon dan Indramayu membusuk akibat kekurangan garam sebagai bahan dasar untuk pengawetan. "Untuk pengawetan sebenarnya bisa menggunakan formalin karena gak ada garam. Paling kalau pengawetan pake formalin bagus, tapi untuk dikonsumsi masyarakat dampaknya berbahaya," kata dia.

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Cucu Sutara meminta pemerintah segera membuka keran impor garam. Hal ini demi menyelamatkan industri yang menggunakan garam sebagai bahan baku dasar.

Menurut dia, bahan baku garam digunakan untuk keperluan aneka pangan serta industri seperti pembuatan kaca, plastik dan ban.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan 4,2 juta ton garam, namun kebutuhan itu belum bisa diimbangi oleh produksi dalam negeri yang baru bisa mencapai 1,8 juta ton per tahun. "Hal ini diperparah dengan kondisi cuaca yang tidak stabil. Tahun 2016 kita gagal panen karena ada La Nina ekstrem," kata dia.

Ia merinci industri Chlor Alkali Plant (CAP) membutuhkan bahan baku dari garam sekitar 2,50 ton, sementara untuk konsumsi rumah tangga dan industri lain membutuhkan 2,183 juta ton.

Akibat sulitnya mendapatkan garam, ia juga mencatat sedikitnya 76 industri di Jawa Barat terpaksa menghentikan produksi karena ketiadaan garam yang merupakan bahan baku utama. "Ini berbahaya kalau dibiarkan. Mau tidak mau, suka tidak suka Impor ini sebuah keterpaksaan. Karena bahan baku kosong," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA