Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Rektor Unnes: Kritik Pedas Sekalipun Diberi Ruang

Kamis 10 Aug 2017 21:52 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Universitas Negeri Semarang

Universitas Negeri Semarang

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Rektor Universitas Negeri Semarang Prof Fathur Rokhman menegaskan lembaga pendidikan yang dipimpinnya terbuka atas kritik sepanjang dikerangkai etika akademik. Bahkan kritik pedas pun akan diterima.

"Keran demokrasi dibuka di Unnes, atas kritik dan saran. Bahkan, kritik pedas sekalipun diberikan ruang," katanya, di Semarang, Kamis (10/8), menanggapi kasus yang menimpa dua mahasiswanya yang dilaporkan ke polisi.

Namun, kata dia, sebagai lembaga akademik tentu dikerangkai etika akademik sehingga kebebasan berpendapat, baik secara langsung maupun tidak langsung tetap harus sesuai dengan kerangka tersebut.

Unnes sebelumnya melaporkan kedua mahasiswanya, yakni Harist Achmad Mizaki dan Julio Belnanda Harianja menyusul unggahan mereka di media sosial mengenai piagam yang mengkritisi uang kuliah tunggal (UKT).

Unggahan dua mahasiswa itu di medsos yang menyindir sosok Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir itu dilaporkan oleh koordinator satuan keamanan Unnes atas koordinasi pihak Rektorat.

Fathur menjelaskan unggahan dua mahasiswa itu atas foto piagam penghargaan yang menyindir kebijakan UKT yang sebelumnya diberikan kepada Menristek Dikti M. Nasir itu isinya menciderai atau menghina.

"Kata cidera itu bermakna negatif, sementara piagam penghargaan itu seharusnya bermakna positif. Kebebasan berpendapat secara langsung maupun tidak langsung dikerangkai norma-norma," katanya.

Seiring kemajuan teknologi informasi, Fathur mengakui memang harus berhati-hati dalam bertutur kata dan berperilaku di dunia maya, termasuk menyampaikan informasi dan pandangan-pandangan di media sosial.

"Jangan menyebarkan, membagikan kebencian, fitnah, dan sebagainya di medsos. Namun, sebarkanlah kebaikan, baik secara langsung maupun lewat medsos," kata Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes itu.

Diakuinya, banyak sebaran kebencian di medsos itu memang dilakukan lewat akun pribadi, tetapi ketika sudah di-"share" secara publik tentu sudah menjadi ruang publik yang bisa berpotensi menimbulkan salah tafsir.

"Ya, ini menjadi pembelajaran dalam berdemokrasi dan menjadi pembelajaran agar kita semua harus berhati-hati di medsos. Hati-hati dalam mengunggah atau menyampaikan sesuatu di medsos," pungkasnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA