Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Besok Keraton Yogyakarta Selenggarakan Grebeg Besar

Jumat 01 Sep 2017 18:50 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Dwi Murdaningsih

 Abdi dalem Kraton Yogyakarta membawa gunungan untuk diperebutkan saat Grebeg Besar di halaman Masjid Gede, Kauman, Yogyakarta.

Abdi dalem Kraton Yogyakarta membawa gunungan untuk diperebutkan saat Grebeg Besar di halaman Masjid Gede, Kauman, Yogyakarta.

Foto: Antara/Noveradika

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Keraton Yogyakarta akan menyelenggarakan Grebeg Besar je 1950 Sabtu (2/9)  mulai pukul 10.00.  Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada Grebeg Besar Je 1950 ada tujuh gunungan atau pareden yang terdiri atas gunungan kakung, puteri, gepak, darat, pakuwuh. Lima diantaranya diarak ke Masjid Gedhe Kauman, sedangkan dua gunungan menuju Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Kepala bidang Humas Dinas Komunikasi dan Informatika DIY Amiarsi Harnawi mengatakan gunungan yang berisi hasil bumi ini merupakan simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Dalam acara ritual yang rutin dilaksanakan ini terdapat iringan pasukan keraton Yogyakarta yang terdiri dari prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, Nyutro yang mengenakan kostum masing-masing dilengkapi aksesories seperti senjata tradisional tombak, keris, serta senapan.

Ia mengatakan untuk keamanan, kelancaran dan ketertiban perjalanan iring-iringan, kepada masyarakat yang menonton dimohon untuk tidak berdiri dan berjalan ataupun melakukan pemotretan/pengambilan gambar terlalu dekat  dengan gajah karena dapat menimbulkan rasa tidak nyaman binatang tersebut dan hal tersebut dikhawatirkan mengakibatkan hilang kendali.

Upacara tradisi ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata di DIY sekaligus menambah wawasan tentang grebeg yang selalu diselenggarakan oleh keraton secara turun temurun. Apalagi kali ini merupakan long weekend sehingga akan semakin banyak masyarakat yang hadir dan menonton upacara tradisi.ini.

Bagi para pelaku usaha diimbau untuk tidak menggunakan aji mumpung dengan menaikkan harga di luar batas kewajaran karena hal tersebut akan merugikan diri sendiri dan merusak citra sebagai daerah tujuan wisata.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA