Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Sejumlah Sawah di Lampung Mulai Kering

Ahad 10 Sep 2017 19:05 WIB

Rep: MURSALIND YASLAN/ Red: Winda Destiana Putri

Kekeringan

Kekeringan

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Sejumlah sawah di sebagian Kabupaten Lampung Selatan mulai mengalami kekeringan selama bulan Agustus ini. Air irigasi dan embung yang menyusut menyulitkan petani untuk menyirami tanaman padinya yang mengancam gagal panen.

Wilayah yang mengalami kekeringan musim kemarau ini, berada di Kecamatan Sragi, Sidomulyo, Ketapang, dan Waypanji. Petani terpaksa memfungsikan pompa air yang mengambil sisa air dari sisa irigasi, embung dan atau sumur bor. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi agar tidak terjadi gagal panen.

Beberapa wilayah kecamatan di kabuapaten tersebut sudah ada yang memanen padinya. Namun, karena sawahnya kekurangan air karena musim kemarau, produksi padi per hektarenya mengalami penurunan tajam. Seperti di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, petani sudah memanen padinya tapi produksinya merosot 50 persen.

Sawah-sawah yang kering memaksa petani kerja ekstra agar tidak terjadi gagal panen karena kekeringan. Di Sragi, petani memacu pompa air sumur bor, agar mendapatkan air untuk menyalurkan ke sawah-sawahnya. “Salah satunya jalan dengan pompa air sumur bor, biar tanaman padinya bisa bertahan,” kata Yamin, petani Desa Sukapura, Sragi.

UPT Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sragi sudah memacu petani setempat untuk mengoptimalkan pompanisasi, dari saluran irigasi, embung dan sumur bor. Tujuan pompanisasi untuk mempertahankan tanaman padi agar tidak berdampak gagal panen tahun ini.

Petani di Sragi mengandalkan air irigasi, air embung dan sumur bor. Air irigasi telah menyusut pada siang hari, sedangkan malam hari saat air laut pasang air irigasi mulai mengisi. Sedangkan air tiga embung yang ada sudah mengering, tak bisa lagi diandalkan petani, sementara pompa air sumur bor kesulitan jaraknya yang jauh.

Petani di Kecamatan Ketapang yang terdiri dari 17 desa memasuki masa musim gadu. Keterangan yang diperoleh belum ada ancaman gagal panen, meski sudah memasuki musim kering pada pekan ini. Petani setempat hanya mengeluhkan produksi panen padinya merosot per hektarenya biasanya 7-8 ton sekarang hanya 3-4 ton saja.

Teguh, petani Desa Bangunrejo, Ketapang, mengaku sudah melakukan penanaman sesuai dengan petujunjuk penyuluh diantaranya dengan bibit yang unggul, pemupukan. Namun, karena sawahnya kekurangan air terus, membuat produksi padinya saat panen merosot.

Menurutnya, tanaman padi berumur satu sampai dua bulan memerlukan air yang cukup, agar tanaman padinya subur. Sedangkan saat tanaman padi sudah berusia cukup, meski hujan tidak memengaruhi kondisi tanaman. Bila pada usia awal tersebut air tidak mencukupi, dapat diperkirakan produksi padinya saat panen merosot tajam.

sumber : Center
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA