Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Penyakit Udang di Pantai Barat Sumatra Merebak

Selasa 12 Sep 2017 08:07 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Andi Nur Aminah

Pekerja memilah udang (ilustrasi)

Pekerja memilah udang (ilustrasi)

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDAR LAMPUNG -- Budidaya udang di pantai barat Sumatra, persisnya di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung dan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu merebak. Budidaya si bongkok tersebut belum sampai lima tahun sudah gagal, karena menjadi penyakit kejadian luar biasa (KLB).

Ikatan Petambak Pantai Barat Sumatera (IPPBS) bekerja sama dengan Dinas Perikanan Kaur dan Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) mencari solusi lewat seminar budidaya udang berwawasan lingkungan dan bebas myo (penyakit udang infectious mynecrosis virus/IMNV) di Bintuhan, ibu kota Kabupaten Kaur, Bengkulu, pekan lalu.

Ketua IPPBS Agusri Syarief menyebutkan, pada  2017 ini banyak budidaya udang di Pesisir Barat dan Bintuhan yang mengalami gagal panen akibat terserang penyakit myo. Padahal awalnya pembudidaya berlomba-lomba membuka tambak di Bintuhan, Kaur dan Pesisir Barat. “Tapi pada saat budidaya udang di kedua daerah ini masih tergolong baru muncul banyak masalah,” katanya seusai seminar saat dihubungi, Selasa (12/9).

Ia mengatakan, perlu untuk menata kembali cara budidaya yang ramah lingkungan yang mungkin kurang selama ini tak peduli agar terbebas dari berbagai serangan penyakit. Ketua III Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Pusat itu mengimbau, pembudidaya untuk sama-sama bersinergi mencari solusi agar budidaya udang di pantai barat Sumatra kembali pulih.

Kepada sesama petambak dan teknisi budidaya udang, ia berharap agar menjalankan budidaya udang yang ramah lingkungan dengan membangun tandon untuk pengolahan air dan instalasi pengolahan limbah.

Heny Budi Utari, kepala Pelayanan Kesehatan Hewan PT CP Prima mengatakan, sekarang para pembudidaya udang justru dihantui oleh penyakit Early Mortality Syndrome (EMS), yang berakibat pada kematian massal udang dan sulit dikendalikan.

Ia menyebutkan, IMNV merupakan penyakit yang masih berjangkit di Lampung, Bengkulu dan Jawa Timur. Di Jatim, myo pertama kali ditemukan di sentra udang di Situbundo pada bulan Juni 2002. Penyakit ini menyerang pada saat udang stres sehingga daya tahan tubuhnya lemah.

Virus myo ini menyerang otot udang. Dari pengalaman selama ini sulit untuk mengeliminasi myo. Yang bisa dilakukan bagaimana agar myo tidak menimbulkan penyakit. Agar udang tetap sehar, caranya dengan treatment lingkungan, karena hewan laut permisif terhadap lingkungan sehingga lingkungan pula yang bisa membuatnya tahan terhadap penyakit.

Serangan myo, membuat kegagalan panen udang di Bengkulu mencapai 60 persen. Bahkan prevalensi sebaran penyakit di Bengkulu atau pantai barat Sumatra sudah mencapai 90 persen. Prevalensi penyakit myo di Pesisir Barat pun sudah di angka 97 persen.

Di Tanggamus (Lampung) prevalensinya berada di angka 89 persen. Di Bengkulu melonjak tajam dari 17 persen tahun 2016 menjadi 37 persen tahun 2017.

Penyakit myo yang merebak di pantai barat Sumatra, bukan disebabkan penyakit yang bermutasi sehingga menyebabkan serangan yang lebih ganas. Namun penyebabnya lebih dominan oleh lingkungan dan faktor internal tambak.

Ia memberikan solusi, pembudidaya harus membangun tandon, melakukan water treatment, mengecek parameter air guna stabilisasi pH, dan parameter air lainnya. Serta membangun instalasi pembuangan limbah.








BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA