Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Sawah Gagal Tanam di Purwakarta Capai 10 Hektare

Ahad 17 Sep 2017 17:10 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Andri Saubani

[ilustrasi] Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan.

[ilustrasi] Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan.

Foto: Antara/Yusran Uccang

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, mencatat ada 73 hektare lahan sawah yang telah ditanami rawan kekeringan. Bahkan, dari 73 hektare tersebut 10 hektare di antaranya gagal tanam.

Padi yang gagal tanam tersebut, baru berusia antara satu sampai 30 hari. Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan, mengatakan, Purwakarta memiliki luas baku sawah 17.792 hektare.

Dari luasan tersebut, 7.000 hektare di antaranya merupakan sawah tadah hujan. Adapun, lahan yang terancam kekeringan dengan kondisi padi sudah ditanami baru 73 hektare."Tapi, yang gagal tanamnya hanya 10 hektare. Sisanya, 63 hektare lagi bisa diselamatkan dengan bantuan pompa air," ujar Agus, kepada Republika, Ahad (17/9).

Lahan sawah yang gagal tanam itu, berada di Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta. Solusinya, lanjut Agus, bila ada sumber mata air, maka di wilayah itu akan mendapatkan bantuan pompa.

Lalu, petani bisa tanam ulang. Akan tetapi, jika tak ada sumber mata air, sebaiknya petani off dulu tanam padi. Lahan sawah tersebut, bisa dimanfaatkan untuk tanam sayuran ataupun palawija. Pada musim kemarau tahun ini, lanjut Agus, Purwakarta mendapat bantuan pompa air dari pemerintah pusat sebanyak 20 unit. Pompa tersebut, telah didistribusikan ke 20 gabungan kelompok tani (gapoktan) yang tersebar di sembilan kecamatan.

Gapoktan yang mendapatkan bantuan pompa itu, berada di wilayah tadah hujan. Dengan begitu, jumlah pompa air yang sudah berada di gapoktan ada 95 unit. Sebab, sebelumnya sudah ada 75 unit pompa yang telah dimanfaatkan oleh petani.

Bantuan pompa ini, sambung Agus, merupakan aksi cepat tanggap pemerintah untuk mengantisipasi kekeringan selama musim kemarau. "Alhamdulillah, meskipun sudah ada yang gagal panen, namun sawah yang terdampak kekeringan masih sangat sedikit," ujarnya.

Menurut Agus, gapoktan yang menerima pompa air itu, masih ada harapan untuk tanam. Pasalnya, di wilayah ini masih terdapat sumber air. Seperti, berasal dari embung, situ, ataupun bekas galian pasir.

Jika di wilayahnya tak ada sumber mata air, maka gapoktan tersebut tak bisa menerima bantuan pompa. Karena, percuma saja ada pompa, tetapi air yang akan disedotnya tidak ada.

Untuk itu, wilayah yang sama sekali tak ada sumber air, disarankan untuk tidak ditanami padi dulu."Sebenarnya ini bagus. Lahan yang tak ditanami bisa istirahat. Sehingga, unsur haranya akan kembali maksimal saat tanam di musim selanjutnya," ujarnya.

Sementara itu, Didin Jaenudin (46 tahun), petani asal Desa Cibogo Girang, Kecamatan Plered, mengatakan, sangat berterima kasih dengan adanya bantuan pompa air ini.

Menurutnya, pompa tersebut sangat dibutuhkan oleh petani di musim kemarau. "Di wilayah kita masih ada sumber air, tapi harus disedot sama pompa," ujarnya.

Pompa air bantuan pemerintah ini, lanjut Didin, mampu menyedot air sebanyak 2.500 liter. Karenanya, petani sangat terbantu sekali. Dengan adanya pompa ini, diharapkan tanaman padi yang sudah berusia 30 hari ini bisa terus tumbuh sampai bisa dipanen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA