Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Kemarau, Ribuan Hektare Sawah di Purwakarta tak Ditanami

Kamis 21 Sep 2017 18:15 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Bayu Hermawan

Sawah (ilustrasi)

Sawah (ilustrasi)

Foto: Adeng Bustomi/Antara

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, mencatat sekitar 1.000 hektare lahan di wilayah ini tak bisa ditanami padi saat musim kemarau. Sebab, ribuan hektare sawah itu berada di area tadah hujan.

Dari seribuan hektare yang tak bisa ditanami itu, berada di Kecamatan Maniis dan Tegalwaru. Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan, mengatakan, luasan baku sawah di Purwakarta mencapai 17.792 hektare.

Dari luasan itu, 7.000 hektare di antaranya merupakan sawah tadah hujan. Saat ini, sawah tadah hujan yang tak bisa ditanami padi luasannya mencapai 1.000 hektare.

"Seperti di Kecamatan Maniis, seluruh luasan bakunya yakni 500 hektare sama sekali tak bisa ditanami," ujar Agus kepada Republika.co.id, Kamis (21/9).

Tak hanya Maniis, di Tegalwaru semua luasan lahannya tak bisa ditanami. Yakni, luasnya mencapai 310 hektare. Sedangkan, sisanya tersebar di 15 kecamatan lainnya. Seperti, Plered dan Campaka. Menurut Agus, meskipun ada 7.000 hektare lahan tadah hujan, tetapi sebagian besar masih bisa ditanami.

Sebab, di wilayah itu masih ada sumber mata air. Seperti, dari embung, bekas galian pasir, dan saluran sungai.Sedangkan, di Maniis dan Tegalwaru sama sekali tak ada sumber mata air. Sehingga, sawah tersebut dibiarkan menganggur tidak ditanami. Akan tetapi, lanjut Agus, areal sawah yang tak ditanami ini sebenarnya berdampak positif. Sebab, lahan bisa beristirahat.

"Justru bagus, lahannya beristirahat, tidak terus-terusan dimanfaatkan," ujar Agus.

Meskipun ada seribuan lahan yang tak bisa ditanami, Agus menjamin, tidak memengaruhi hasil produksi secara keseluruhan. Karena, hasil produksi yang ditargetkan pusat untuk Purwakarta, yakni sebanyak 300 ribu ton GKP sudah terealisasi pada musim tanam April-September kemarin.

"Jadi, secara keseluruhan musim kemarau ini tak berdampak pada hasil produksi," ujarnya.

Sementara itu, Ketua KTNA Kabupaten Purwakarta, Ujang Alim Adi S, mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi dengan respon cepat pemerintah saat musim kemarau ini. Salah satunya, dengan segera mendistribusikan pompa air bagi gapoktan yang areal sawahnya terancam kekeringan.

"Biasanya, bantuan seperti itu turunnya susah. Sekarang sangat cepat. Purwakarta mendapat alokasi 20 unit pompa baru yang didistribusikan ke petani di areal tadah hujan," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA