Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Demo Penggusuran Bandara, 15 Aktivis di Kulonprogo Ditangkap

Selasa 05 Des 2017 22:15 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Budi Raharjo

Warga menyaksikan alat berat yang digunakan untuk merobohkan rumahnya pada pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin (4/11).

Warga menyaksikan alat berat yang digunakan untuk merobohkan rumahnya pada pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin (4/11).

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

REPUBLIKA.CO.ID,KULONPROGO -- Kekerasan terjadi saat penggusuran paksa yang dilakukan PT Angkasa Pura 1 mendapat penolakan masyarakat di Desa Palihon, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, DIY. Tidak kurang 15 aktivis mahasiswa ditangkap Polres Kulonprogo tanpa alasan jelas.

"15 orang ditangkap dan sekarang ada di Polres Kulonprogo," kata Staf Divisi Advokasi Pembelaan HAM Komisi Untuk Orang Hialng dan Rivanlee Ananar kepada Republika, Selasa (5/12) malam.

Ia menjelaskan, penangkapan dilakukan terlebih dulu pada Selasa (5/12) siang kepada 12 aktivis yang bersolidaritas atas penggusuran yang terjadi. Selanjutnya, penangkapan kembali dilakukan kepad tiga aktivis Selasa (5/12) sore.

Selain itu, ada tindakan kekerasan yang dilakukan Kepolisian, khususnya jajaran Polres Kulonprogo dan mengakibatkan tiga warga luka-luka. Sampai saat ini, belum diketahui seberapa parah luka yang diderita warga yang masih ada di lokasi tersebut.

Sejauh ini, lanjut Rivanlee, belum ada tanggapan yang diberikan Polda DIY, termasuk Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofiri. Menurut Rivanlee, tanggapan baru ke luar dari Kapolres Kulonprogo, AKBP Irfan Rifai, yang berdalih hanya melakukan pendataan.

"Kalau tanggapan Polda DIY belum, tapi Kapolres (Kulonprogo) mengaku hanya mengamankan, untuk ditanya identitas," ujar Rivanlee.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA