Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sebanyak 32 Titik Rawan Gepeng di Kota Bandung

Rabu 13 Des 2017 13:05 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Andi Nur Aminah

Gelandangan dan pengemis (gepeng)

Gelandangan dan pengemis (gepeng)

Foto: Republika/Adhi.W

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kota Bandung, hingga saat ini masih belum terbebas dari gelandangan dan pengemis (Gepeng) atau Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Menurut Kepala Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung, Tono Rusdiantono, saat ini ada 32 titik di Kota Bandung yang menjadi pusat-pusat operasi PMKS. Karena, rawan PMKS.

Tono mengatakan, delapan di antaranya yang paling banyak Gepeng adalah Jalan Pasteur, Sukajadi, Pasirkoja, Bawah Pasopati, Cikapayang, Kiaracondong, Jalan Otista, dan Jalan Laswi. Tono pun, meminta agar warga lebih baik menyalurkan donasi kepada lembaga yang betul-betul konsen untuk menolong orang miskin. "Kalau mau memberikan donasi, berikan kepada lembaga-lembaga dan sesuai aturan. Punya izin dan betul," ujar Tono, kepada wartawan, Selasa (13/12).

Menurut Tono, instansinya seringkali melakukan razia PMKS di titik-titik rawan. Salah satu sasarannya adalah 'manusia silver', yakni para pengemis yang seluruh tubuhnya dibubuhi cat berwarna silver.Setelah ditelusuri, ia mendapatkan fakta bahwa 70 persen dari mereka bukanlah warga Bandung, melainkan pendatang yang mencari uang di Bandung.

"Kemarin itu ada dari Medan, ada lagi kita cek dari Cianjur. Dari Bandung juga ada, kita tidak menutup kemungkinan. Tapi itu hanya yang di bawah Pasupati," kata Tono.

Di penghujung tahun ini, menurut Tono, ia kembali harus bersiap-siap sebab biasanya pada momentum pergantian tahun PMKS kembali merebak. Orang-orang baru akan hadir meramaikan Bandung. "Tahun baru biasanya kita siapkan aparat, terutama untuk operasi," katanya.

Tono pun mengimbau pada warga dan wisatawan di Kota Bandung agar tidak memberikan sumbangan kepada PMKS, seperti pengemis jalanan. Karena, cara tersebut dinilai tidak mendidik dan tidak menyelesaikan persoalan kemiskinan.

Sebagai sesama manusia, Tono mengatakan, kita memang harus saling tolong menolong dalam kebaikan. Memberi sedekah merupakan salah satu perilaku baik yang patut dicontoh. Disamping itu, memberi bantuan kepada yang membutuhkan dianjurkan oleh semua ajaran agama. Namun, warga juga harus cerdas kepada siapa ia memberikan donasi dan apa dampaknya bagi yang diberi bantuan. Jangan sampai donasi yang kita berikan justru berdampak kurang baik bagi penerimanya.

"Jadi, setiap orang yang datang ke Bandung, baik warga maupun wisatawan, tidak diperbolehkan memberikan donasi kepada mereka yang meminta-minta atau PMKS yang ada di jalan. Itu waspada, tidak boleh diberikan," kata Tono.

Tono menilai, pemberian uang pada peminta-minta itu akan menyebabkan penumpukan PMKS di Kota Bandung. Serta, tidak mendidik. "Itu akan mendidik mereka menjadi malas. Mendidik mereka menjadi berpenyakit, penyakitnya penyakit malas," katanya.

Dinsos sendiri, kata dia, mendapatkan laporan bahwa para PMKS itu sengaja dikirim dari luar kota menggunakan kereta. Sesampainya di stasiun, mereka diangkut menggunakan mobil bak terbuka dan diturunkan di titik-titik tertentu. "Ada yang di Kiaracondong, ada yang di mana," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA