Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Survei Denny JA: Golkar Bisa Terlempar dari 3 Besar

Kamis 14 Dec 2017 16:42 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Bilal Ramadhan

Penyampaian Hasil. Peneliti Senior LSI Denny JA Ardian Sopa memberikan  penyampaian hasil Survei LSI Denny JA setelah Airlangga menjadi ketua umum Partai Golkar di kantor LSI Denny JA, Jakarta, Kamis (14/12).

Penyampaian Hasil. Peneliti Senior LSI Denny JA Ardian Sopa memberikan penyampaian hasil Survei LSI Denny JA setelah Airlangga menjadi ketua umum Partai Golkar di kantor LSI Denny JA, Jakarta, Kamis (14/12).

Foto: Republika/Iman Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terakhir per 14 November 2017 menunjukkan partai Golkar mengalami tren elektabilitas negatif. Partai Golkar terus menjauh berada di bawah dua partai besar lain PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.

"Tren elektabilitas Golkar negatif, sehingga jika tren ini terus berlanjut, bukan hal yang mustahil Golkar bisa terlempar ke urutan keempat," ujar peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, saat merilis hasil Survei Golkar setelah Airlangga, Kamis (14/12).

Dalam hasil survei LSI Denny JA terakhir, PDIP masih memegang posisi teratas soal elektabilitas di masyarakat di angka 24,2 persen. Disusul Partai Gerindra 13 persen dan Partai Golkar 11,6 persen.

Survei LSI Denny JA ini dilakukan pada 1-14 November 2017 secara nasional. Survei dilakukan dengan metode wawancara tatap muka terhadap 1200 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei ini plus minus 2,9 persen. Kualitatif riset dilakukan pada 1-13 Desember.

(Baca Juga: Berita Politik Masa Kini Didominasi Korupsi Berjamaah)

Hasil survei ini, jelas Ardian, membuat Golkar dalam sejarahnya terancam terlempar hingga ke empat besar disalip Partai Demokrat. Sejak Agustus 2017, ia mengungkakan tren elektabilitas Golkar negatif dari 12,7 persen pada Juni 2017 menjadi 11,6 persen pada Agustus 2017.

"Walaupun sempat kembali trennya positif pada November 2017 di angka 13,6 persen tetapi ketika Setya Novanto menjadi tersangka KPK untuk kedua kali, trennya kembali negatif di angka 11,6 persen," jelasnya.

Namun dari hasil survei ini diungkapkannya, 65,7 persen publik yakin, partai beringin ini masih bisa bangkit. Salah satu syaratnya bila Golkar menggunakan branding baru. Angka 65,7 persen tersebut, menurut dia, memperlihatkan masih ada antusiasme publik terhadap Golkar.

Publik seperti menginginkan Golkar muncul dengan tampilan yang baru dari masa kepemimpinan Setya Novanto. "Golkar bisa rebound dari tren negatif elektabilitasnya jika ada ketua umum baru, program baru dan tokoh baru yang membawa branding baru," ungkap Ardian.

Ketua umum baru, pragram baru, dan tokoh baru dianggap menjadi tiga variabel terpenting menjadikan branding baru Golkar. Dimana ketua umum baru merupakan indikator terpenting sebesar 34,4 persen, program baru sebesar 27,6 persen dan tokoh baru sebesar 22,6 persen.

Untuk calon ketua umum baru, dari beberapa yang diuji dalam survei Airlangga Hartanto berada di urutan teratas dengan capaian 51,6 persen. Disusul Idrus Marham 16,3 persen, Titiek Suharto 9,7 persen, Azis Syamsuddin 8,3 persen dan Bambang Susatyo 7,2 persen.

(Baca Juga: Denny JA: Golkar di Bawah Airlangga Perlu Branding Baru)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA