Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Setnov Bantah Ikut dalam Proyek Bakamla

Kamis 25 Jan 2018 14:11 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Setya Novanto

Setya Novanto

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Setnov merasa banyak pihak mencatut namanya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (Setnov) membantah ikut dalam proyek Badan Keamanan Laut (Bakamla). Ia juga mengaku tidak mengetahui proyek tersebut.

"Saya tidak pernah tahu urusan Bakamla, tidak pernah tahu urusan Bakamla," kata Setnov di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (25/1).

Pada Rabu (24/1) Managing Director PT Rohde and Schwarz Erwin Arif mengatakan ada nama Setnov dalam proyek pengadaan "satellite monitoring" dan "drone" di Bakamla. Hal itu terungkap percakapan anggota Komisi I DPR dari fraksi Partai Golkar Fayakhun Andriadi dan Erwin melalui "whatsapp" pada Mei 2016.

Fayakhun mengatakan "Bro tadi saya sudah ketemu Onta, SN dan Kahar. Semula dari Kaba yang sudah oke drones, satmon belum. Tapi saya sudah paksa bahwa harus drones + satmon total 850. Onta sudah konfirm dengan Kaba dan saya, oke untuk fahmi dapat 2 items, drones dan satmon, 850. Sekarang semestinya Onta ketemu fahmi. Begitu oke, saya perlukan Senin dimulai didrop".

Erwin Arief lalu membalas, "Ok nanti aku kabarin Fahmi sekarang".

"Saya tidak tahu, kok selalu menghubungkan nama saya itu apa karena namanya Setya Novanto itu? Saya tidak tahu benar, jahat juga ya, kadang ya," ucap Setnov.

Setnov pun mengaku penyebutan namanya itu adalah pencemaran nama baik. "Iya, pencemaran nama baik, ya kadang masih dalam keadaan begini cuma prihatin sajalah, nyebut, nyebut, tapi kita lihat lah perkembangannya," tambah Setnov.

Setnov juga tidak bersedia bila diminta bersaksi dalam kasus Bakamla. "Kan saya tidak tahu urusan Bakamla, tidak mengerti tidak tahu, tidak pernah berhubungan," kata Setnov.

Dalam sidang untuk terdakwa Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi di Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla) Nofel Hasan yang didakwa menerima 104.500 dolar Singapura (sekitar Rp1,045 miliar) dari pengusaha Fahmi Darmawasyah itu, disebut juga ada dana 300 ribu dolar AS dari Fahmi untuk musyawarah nasional (munas) Golkar. JPU menunjukkan percakapan whatsapp antara Fayakhun Andriadi dengan Erwin Arief pada 4 Mei 2016.

Fayakhun Andriadi menyatakan "Noted bro, konfirm bro. Bro, kalau dikirim senin maka masuk di tempat saya kamis atau jumat depan. Padahal jumat depan sudah munas Golkar. Apa bisa dipecah, yang cash di sini Rp 300 ribu, sisanya di JP Morgan? Rp 300 ribunya diperlukan segera untuk petinggi-petingginya dulu. Umatnya nyusul Minggu depan".

Lalu dibalas oleh Erwin Arief, "Bro akan diusahakan karena Kamis atau Jumat libur". Uang dikirim ke empat rekening perusahaan di luar negeri secara bertahap.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA