Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

TNI Siap Kawal Gilir Giring Air

Jumat 26 Jan 2018 21:06 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Hazliansyah

Kekeringan (ilustrasi)

Kekeringan (ilustrasi)

Foto: ANTARA FOTO/Yusran Uccang
Pengawalan gilir giring air dilaksanakan di setiap pintu air

REPUBLIKA.CO.ID,  INDRAMAYU -- Jajaran Kodim 0616/Indramayu siap mengawal gilir giring pasokan air irigasi yang mengarah pada areal persawahan yang kini mengalami kekeringan. Hingga kini, kekeringan pada areal tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, masih terus berlangsung.
 
"Pengawalan gilir giring air kita laksanakan di setiap pintu air di sana," ujar Dandim 0616/Indramayu, Letkol Kav Agung Nur Cahyono, saat ditemui di sela pelantikan pengurus PWI Indramayu, di Pendopo Indramayu, Jumat (26/1) sore.
 
Saat ini, kekeringan melanda ratusan hektare areal tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Selain di kecamatan tersebut, kesulitan air juga melanda berbagai kecamatan di sekitarnya, seperti Kecamatan Losarang, Kroya, Bongas dan Gabuswetan. 
 
Tak hanya pengawalan air, tambah Agung, pihaknya juga akan mengajukan permintaan penambahan pasokan air dari BBWS Cimanuk Cisanggarung maupun PJT II Jatiluhur. Dengand emikian, pasokan air ke areal persawahan akan meningkat.
 
"Kita akan komunikasikan supaya pintu air di sana dibuka lebih lama dari yang sekarang," tutur Agung.
 
Agung mengatakan, berdasarkan pantauannya, debit sungai Cimanuk saat ini memang berkurang. Hal itu menyusul tingginya tingkat sedimentasi di berbagai titik lokasi. Dia berharap agar pihak BBWS melakukan upaya pengerukan agar sungai bisa menampung debit yang lebih tinggi.
 
Selain itu, Agung pun mengakui, terhambatnya pasokan air di saluran irigasi juga terjadi karena adanya kegiatan normalisasi saluran irigasi yang kini sedang berlangsung. Dia pun meminta pengertian dan kesabaran petani karena tujuan dilakukannya normalisasi itu untuk optimalisasi pengairan kedepannya.
 
"Kalau tidak dinormalisasi, hasilnya akan begitu-begitu saja. Normalisasi ini untuk kepentingan pengairan kedepannya, bukan hanya hari ini," kata Agung.
 
Sementara itu, Ketua kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, menyatakan, kekeringan pada areal persawahan di daerahnya hingga kini masih terus terjadi. Petani di wilayah itupun masih menunggu penggelontoran air yang dijanjikan akan dilakukan pada Jumat (26/1).
 
"Air belum datang, sawah sampai sekarang masih kering," terang Waryono, kepada Republika.co.id, Jumat (26/1) sore.
 
Waryono menilai, pengaturan pengairan semestinya dilakukan terlebih dulu untuk desa-desa yang terletak agak ke hulu, yakni Desa Rancahan Kecamatan Gabuswetan dan Desa Manggungan Kecamatan Losarang. Setelah itu, air baru difokuskan untuk wilayah Kecamatan Kandanghaur.
 
Seperti diberitakan, sedikitnya 800 hektare areal tanaman padi yang tersebar di empat desa di Kecamatan Kandanghaur kini mengalami kekeringan. Selain akibat minimnya curah hujan, kondisi itu juga terjadi menyusul adanya kegiatan modernisasi saluran irigasi yang membuat pasokan air jadi terhambat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA