Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Warga Malang Pukul Lesung Padi Saat Gerhana Bulan

Rabu 31 Jan 2018 22:17 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Nur Aini

Warga Tumpang, Kabupaten Malang memilih tradisi pukul lesung padi dalam menyambut fenomena gerhana bulan, Rabu malam (31/1).

Warga Tumpang, Kabupaten Malang memilih tradisi pukul lesung padi dalam menyambut fenomena gerhana bulan, Rabu malam (31/1).

Foto: Wilda Fizriyani/Republika
Tradisi pukul lesung dilakukan saat gerhana bulan maupun matahari.

REPUBLIKA.CO.ID,  MALANG -- Fenomena gerhana bulan telah diprediksi akan muncul di seluruh wilayah Indonesia pada Rabu malam (31/1). Meski cuaca mendung, sejumlah warga Malang tetap antusias menyaksikan fenomena langka tersebut.

Berbeda pada umumnya, warga Tumpang, Kabupaten Malang lebih memilih tradisi pukul lesung padi dalam menyambut fenomena tersebut. Sejumlah anggota Padepokan Mangundarmo, Dusun Tulusbesar, Tumpang dan beberapa warga umum berkumpul di De' Forest untuk melaksanakan tradisi dari Jawa itu. Tradisi pukul lesung padi itu berjalan sekitar 30 menit di tempat terbuka.

Pimpinan Padepokan Mangundarmo, Ki Soleh Adi Pramono menerangkan, tradisi ini memang selalu dilakukan saat gerhana bulan maupun matahari terjadi di wilayahnya. "Ini dilakukan tepatnya apabila ada gerhana, yang berarti nampaknya lesung sebagai simbol tubuh Kala Rau yang akan memakan bulan. Kisah ini diambil menurut Kitab Kondo Keling di dalam pewayangan Gagrak Malangan," kata Ki Soleh saat ditemui wartawan di De' Forest Tumpang, Kabupaten Malang, Rabu malam (31/1).

Ki Soleh menambahkan, kebudayaan lesung ini sebenarnya akrab dengan kebiasaan potong atau menumbuk padi menjadi beras di masa lalu. Hal ini lebih tepatnya terjadi sebelum teknologi penggiling beras ada di Indonesia.

Selain itu, masyarakat di masa lalu juga biasanya akan keluar untuk menumbuk lesung padi saat terjadi fenomena gerhana bulan. "Itu dilakukan karena mereka pikir jangan-jangan bulan juga akan dicaplok gerhana nantinya," ujar dia.

Adapun makna secara simbolik, Ki Soleh mengungkapkan, ini berarti manusia harus bisa mengoreksi perilaku diri sendiri. Kemudian berusaha untuk mawas diri atas kekurangan yang ada pada diri masing-masing. "Intinya, budaya lesung ini mengingatkan kita kembali akan kesadaran dan kedekatan manusia dengan alam dan Tuhan," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA