Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Mampang-Buncit Mengandung Memori Kolektif Masyarakat Betawi

Jumat 02 Feb 2018 17:58 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah kendaraan melintas di Ruas Jalan Mampang, Jakarta, Rabu (31/1).

Sejumlah kendaraan melintas di Ruas Jalan Mampang, Jakarta, Rabu (31/1).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Masyarakat Betawi prihatin dengan makin banyaknya nama kampung Betawi yang lenyap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggantian nama Jalan Mampang hingga Warung Buncit menuai pro kontra. Sejumlah sejarawan dan budayawan Betawi bahkan membuat petisi yang berjudul "Petisi Perkumpulan Betawi Kita Menolak Pergantian Nama Jalan Mampang dan Buncit Serta Sekitarnya dengan Nama Jalan Jenderal Besar A.H Nasution". Di dalam petisi yang dapat dilihat pada akun Facebook budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra tersebut tertulis juga sejumlah tokoh yang menolak antara lain adalah sejarawan JJ Rizal dan Ketua Umum Sikumbang Tenabang, Roni Adi.

Di dalam petisi tersebut, Yahya serta rekan-rekannya meminta Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk membatalkan keputusan perubahan nama jalan di daerah Jakarta Selatan tersebut. Alasan ketidaksetujuan para tokoh Betawi ini adalah karena semakin lama banyak nama-nama yang mengandung memori kolektif masyarakat Betawi dilenyapkan.

"Bapak Gubernur Anies Baswedan, perlu Bapak ketahui bahwa selama lebih seperempat abad terakhir ini sudah begitu banyak nama-nama kampung dan jalan-jalan yang mengacu kepada memori kolektif masyarakat Betawi yang lenyap," tulis Yahya, dalam petisi tersebut.

Petisi tersebut kemudian mencontohkan sejumlah nama kampung yang kini telah berubah nama. Misalnya adalah Kampung Dua Ratus dan Kampung Pecandran.

"Di Pondok Gede, ada nama Kampung Dua Ratus karena luasnya 200 ha, tapi sekarang sudah hilang dan masuk Kelurahan Halim. Seperti juga Kampung Pecandran dan Kampung Petunduan yang bukan hanya namanya, tetapi kampungnya pun sudah hilang," lanjut petisi tersebut.

Ketika dihubungi untuk keterangan lebih lanjut, Yahya mengungkapkan kesedihannya karena budaya leluhur yang terus ia lestarikan sedikit demi sedikit hilang. "Kita orang sini, kita orang Betawi yang paling merasakan betapa sakit hatiku, bila sedikit demi sedikit apa yang kita miliki yang sudah merasakan dari turun temurun dipocelin itu artinya dihilangkan sedikit demi sedikit akhirnya menjadi hilang," kata Yahya pada Republika.co.id, Jumat (2/2).

Menurut Yahya baik nama Mampang Prapatan ataupun Warung Buncit memiliki nilai yang sangat berharga bagi masyarakat Betawi. Nama-nama tersebut memiliki nilai kolektif masyarakat Betawi yang harus terus dilestarikan. "Jadi memori kolektif dari masyarakat kita, akan kita jaga dan akan kita wariskan terus menerus karena kita masih memiliki Mampang dan Warung Buncit. Jadi akan lebih mudah kita mentransmisikan ke generasi yang akan datang," kata Yahya.




Apabila nama-nama yang mengandung nilai sejarah ini dihilangkan, Yahya menilai bisa menyebabkan identitas masyarakat Betawi kosong. Terkait hak tersebut, ia serta rekan-rekannya membuat petisi supaya kekosongan identitas itu tidak terjadi.

"Daya ingat kita kepada identitas kita sendiri terutama bagi generasi 50, 100 tahun yang akan datang menjadi kosong. Jadi kehampaan itulah yang kita ingin hindarkan," lanjut Yahya.

Menurutnya, nama bukanlah sekadar nama. Nama memiliki doa dan pengharapan serta keseimbangan antara manusia dan alam lingkungannya. Hal itulah yang menyebabkan Yahya terus bertahan akan pandangannya.

Banyak versi yang menjelaskan sejarah asal usul Mampang dan Warung Buncit. Sejarawan Asep Kambali mengatakan ada yang bilang buncit itu karena warung terakhir. Selain itu, buku Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe mengatakan Warung Buncit berasal dari nama warung milik seorang Tionghoa namanya Bun Tjit.

Sementara itu, Lurah Mampang Prapatan, Ramli mengatakan, sepengetahuannya asal usul nama Mampang Prapatan adalah karena persimpangan yang ada di wilayah tersebut. "Itu saya no comment, tapi setahu saya, ya itu dari kata simpang, ada persimpangan akhirnya jadi Mampang Prapatan," ujar Ramli, ketika ditemui di kantornya, Jumat (2/1).

Sejumlah sumber memang mengatakan nama Mampang Prapatan berasal dari persimpangan. Masih di dalam buku Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe, kata nama Mampang Prapatan dibuat karena terdapat perempatan yang terpampang jelas di wilayah tersebut.

Sementara itu, Lurah Pejaten Barat, Rachmat Basuki mengatakan nama-nama yang ada pasti berhubungan dengan sejarah masa lalu wilayah tersebut. Ia menilai tidak mungkin nama suatu tempat tiba-tiba ada begitu saja tanpa alasan. "Spanduk sudah kita turunkan. Memang belum ada perintah tertulis, tapi Gubernur sudah bilang begitu jadi kami turunkan dulu," kata Rachmat, saat dikonfirmasi.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA