Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Jangan Terprovokasi Terkait Serangan Gereja Lidwina

Ahad 11 Feb 2018 14:59 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Indira Rezkisari

Gereja Santa Lidwina di Padukuhan Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DIY.  Gereja yang mengalami penyerangan usai menggelar misa pada Ahad (11/).

Gereja Santa Lidwina di Padukuhan Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DIY. Gereja yang mengalami penyerangan usai menggelar misa pada Ahad (11/).

Foto: Republika/Wahyu Suryana
Gereja sudah mengimbau jemaatnya untuk kembali berkegiatan seperti biasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta AKBP Yulianto mengimbau agar masyarakat tidak terbawa isu-isu yang datang beriringan dengan aksi penyerangan Gereja Santa Lidwina di Yogyakarta, Ahad (11/2) pagi. Terlebih, isu tersebut kerap tidak terkonfirmasi.

"Saya kira jangan terprovokasi dengan isu-isu yang tidak benar. Informasi yang benar ya dari sumber polisi sementara ini," kata Yulianto saat dihubungi, Ahad (11/2).

Dari pihak gereja sendiri, menurut Yulianto, sudah ada imbauan agar jemaat kembali melaksanakan kegiatan seperti biasanya. Hal ini, diharapkan tidak memberikan ketakutan berkelanjutan pada aktivitas ibadah masyarakat di Gereja. Kepolisian pun siap melakukan pengamanan.

"Tidak usah terpengaruh, jadi mempercayakan penanganan kepada polisi. Jadi jemaaat tidak usah terpengaruh karena pelaku sudah diamankan. Seperti biasa aktivitas lah," kata dia.

Sementara ini, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, Sleman belum bisa ditanya soal motif penyerangan. Pelaku bernama Suliono tersebut masih kritis karena tembakan petugas.

Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 WIB, Ahad (11/2) pagi. Pelaku tiba-tiba masuk melalui pintu gereja. Tiba-tiba pelaku pun melukai jemaat yang sedang misa pagi dengan senjata tajam. Terdapat setidaknya empat korban dalam penyerangan itu. Empat korban itu terdiri dari dua jemaat, satu pendeta dan seorang polisi. Saat pelaku melakukan penyerangan dengan parang, polisi datang dan berusaha mengamankan situasi.

Pelaku yang masih melawan pun diberi tembakan peringatan. Namun, pelaku masih melawan juga, akhirnya pelaku ditembak di kaki dan perut, kemudian dibawa ke rumah sakit. Saat ini polisi masih menunggu pelaku sembuh dari keadaannya yang kritis. Berikutnya, polisi akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada pelaku bila telah siuman.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA