Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Penyidik Kasus Penyerangan Novel Diganti, Polri: Hal Biasa

Jumat 02 Mar 2018 08:34 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Ratna Puspita

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Foto: Republika/Ronggo Astungkoro
Sebelum ada pergantian penyidik biasanya Mabes Polri melakukan gelar perkara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyidik yang menangani kasus Novel Baswedan mengalami pergantian karena harus menempuh pendidikan. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto menyatakan hal ini adalah hal yang biasa.

"Biasa, jadi kalau ada pergantian penyidik biasanya ada gelar perkara dulu," kata Setyo di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (2/3).

Gelar perkara itu membahas sudah sejauh mana perkembangan kasus tersebut. Setelah itu diserahkan barang bukti serta berkas-berkas dari penyidik lama dan penyidik baru.

"Biasalah itu, karena tidak mungkin kan, karena dia (penyidik) harus sekolah juga, dia (penyidik) harus ada tugas lain," kata Setyo.

Menurut Setyo, pengaruh pergantian penyidik tersebut tergantung pada personalitas dan kemampuan penyidik itu sendiri. Jika penyidik yang menggantikan lebih baik maka pengungkapan kasus qkan lebih cepat. 

Akan tetapi, Setyo mengatakan, ada pula penyidik yang mungkin tidak memahami permasalahan kasus tersebut sehingga malah mungkin bisa menghambat. Kendati demikian, Setyo tidak memberikan penilaian secara khusus terhadap penyidik baru kasus penyerangan Novel tersebut. “Namun, saya harapkan penyidik lebih baguslah," kata dia.

Tahun lalu, kepolisian juga sempat mengganti penyidik yang mengusut kasus penyerangan Novel Baswedan. Hal itu disampaikan Novel Baswedan langsung pada 14 Agustus 2017. 

"Saya tahu perubahan penyidik ketika saya melihat surat-surat yang ada, dan kedua saya tahu karena saya bertanya kepada yang bersangkutan," kata Novel, tahun lalu. 

Sudah sepuluh bulan kasus Novel berada dalam penanganan Polda Metro Jaya. Hingga kini bukti-bukti yang diperoleh polisi masih belum bisa menunjukkan titik terang pelaku penyiraman Novel meskipun sketsa wajah terduga pelaku telah dibuat. Polri bahkan sempat meminta bantuan kepolisian Australia, namun hasilnya juga nihil. 

Novel mengalami penyerangan berupa penyiraman air keras berjenis Asam Sulfat atau H2SO4 pada Selasa 11 April 2017. Ia diserang usai menunaikan Salat Subuh di Masjid dekat kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

Novel pun menjalalani perawatan intensif di Singapura untuk menyembuhkan luka di matanya imbas penyerangan itu. Hingga akhirnya, Novel pulang pada Kamis 21 Februari 2018

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA