Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Diskriminasi Kampus dan Pengakuan 'Kesalehan' Dosen Bercadar

Kamis 15 Mar 2018 10:12 WIB

Red: Elba Damhuri

Edaran yang berisikan imbauan bagi civitas akademika IAIN Bukittinggi untuk tidak mengenakan cadar.

Foto:
Dosen bercadar IAIN Bukittinggi ini masih diminta nonaktif mengajar.

Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno belum mau memberikan respons atas kebijakan IAIN Bukittinggi yang mengimbau dosen dan mahasiswi agar tak bercadar. Irwan memilih untuk berkoordinasi terlebih dulu dengan pihak kampus terkait latar belakang kebijakan ini. “Saya belum bisa komentar. Nanti, ya, dipelajari dulu,” ujarnya di Istana Gubernur Sumbar.

Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Bukittinggi Syahrul Wirda menerangkan, imbauan yang diterbitkan kampusnya sesuai dengan kode etik yang disepakati seluruh civitas academica. Sesuai kesepakatan itu, kata Syahrul, IAIN Bukittinggi tidak melarang penggunaan cadar bagi mahasiswi dan dosen di lingkungan akademik.

Kampus hanya menjalankan langkah persuasif bagi mahasiswi dan dosen bercadar untuk mengikuti ketentuan berbusana sesuai kode etik kampus.

Poin yang menjadi bahan pertimbangan kampus, kata Syahrul, adalah upaya untuk menghindari justifikasi bahwa penggunaan cadar menunjukkan tingkat keislaman yang paling sempurna bagi seorang Muslimah. “Kadang yang kami takutkan, mereka posisikan diri bahwa yang bercadar itu yang benar. Itu tidak mau kita. Jangan justifikasi orang yang tidak bercadar belum sempurna Islamnya,” ujar Syahrul, Selasa (13/3).

Syahrul tak menampik bahwa imbauan tata cara berbusana yang diterbitkan pihak kampus berkaitan dengan isu terorisme dan radikalisme. Namun, bagi dia, imbauan bagi mahasiswi dan dosen agar tidak mengenakan cadar murni ketentuan kode etik kampus saja. “Tidak ada kaitannya dengan isu radikalisme," katanya.

Syahrul menegaskan, IAIN Bukittinggi menolak penggunaan diksi pelarangan cadar. Dia pun memilih penggunaan kata imbauan untuk menjelaskan kebijakan soal cadar di lingkungan kampus.

Mengenai penonaktifan Hayati, Syahrul menyebutkan, pihak kampus hanya ingin agar dosen tersebut menaati aturan. Sebab, pimpinan kampus memandang penggunaan cadar bagi seorang dosen akan menghambat proses akademik di kelas.
Bahkan, Syahrul mengklaim sudah mendapatkan masukan dari mahasiswa yang mengatakan mereka merasa kurang nyaman ketika diajar oleh dosen yang mengenakan cadar.

“Ada pihak yang tidak merasa nyaman. Dia guru bahasa Inggris. Dia mengajar anak-anak speaking, perlu kelihatan. Kita perlu identitas. Makanya, kalau di kampus, kami minta tolong kode etik kampus dipatuhi. Sampai hari ini dia belum mau,” kata Syahrul.

Dia pun menegaskan, sampai saat ini Hayati tidak diberhentikan sebagai dosen IAIN Bukittinggi maupun dicopot jabatan akademik yang diembannya. Meski begitu, IAIN Bukittinggi tetap melakukan upaya persuasif bagi Hayati agar mau kembali mengajar dengan ketentuan berbusana yang diminta pihak kampus.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA