Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Diskriminasi Kampus dan Pengakuan 'Kesalehan' Dosen Bercadar

Kamis 15 Mar 2018 10:12 WIB

Red: Elba Damhuri

Edaran yang berisikan imbauan bagi civitas akademika IAIN Bukittinggi untuk tidak mengenakan cadar.

Foto:
Dosen bercadar IAIN Bukittinggi ini masih diminta nonaktif mengajar.

'Saya tidak merasa paling saleh'

Dr Hayati Syafri tak bisa menerima alasan kampus yang menjatuhkan sanksi kepada dirinya karena berpakaian cadar. Apalagi, kampus menuding Hayati telah memberikan pengaruh tidak baik terhadap lingkungan. Sebagai pengguna cadar, Hayati disangka ingin menunjukkan bahwa tingkat keislamannya paling sempurna.

“Saya tidak merasa paling baik dan paling saleh dalam menjalankan syariat Islam. Saya cuma ingin diberi izin bercadar di kampus karena kampus adalah miniatur dan contoh bagi kehidupan di masyarakat,” kata Hayati, Rabu (14/3).

Kini, Hayati terpaksa harus berdiam di rumah setelah pihak kampus menjatuhkan sanksi nonaktif mengajar selama masih mengenakan cadar. Dosen bahasa Inggris itu pun tidak bisa lagi bertatap muka dengan para mahasiswanya di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Polemik cadar di IAIN Bukittinggi bermula dari penerbitan surat imbauan bagi dosen dan mahasiswi agar tidak mengenakan cadar di lingkungan kampus. Dalam surat edaran tertanggal 20 Februari 2018 yang ditandatangani Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi tersebut, kampus meminta mahasiswa dan mahasiswi untuk mengenakan pakaian sesuai kode etik yang dijalankan IAIN Bukittinggi.

Di butir pertama, surat edaran meminta seluruh civitas academica bersikap sopan santun. Butir kedua menjelaskan aturan berpakaian bagi mahasiswi, yakni memakai pakaian longgar, jilbab tidak tipis dan tidak pendek, tidak bercadar atau masker atau penutup wajah, dan memakai sepatu serta kaus kaki.

Sementara, butir ketiga diperuntukkan bagi mahasiswa, yakni memakai celana panjang bukan tipe celana pensil, baju lengan panjang atau pendek bukan kaus, rambut tidak gondrong, dan memakai sepatu serta kaus kaki.

“Bagi yang tidak mematuhi, tidak diberikan layanan akademik,” demikian bunyi kalimat dalam surat edaran tersebut. Akibat kukuh mengenakan cadar, Hayati pun terpaksa diminta libur dari aktivitas mengajar sejak awal semester ini.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis beranggapan, perguruan tinggi harus membuka ruang dialog soal kebijakan penggunaan cadar di lingkungan kampus.

Cholis meminta IAIN Bukittinggi meniru langkah yang dilakukan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang mencabut surat perintah pembinaan khusus kepada mahasiswi bercadar.

“Perlu meniru Yogyakarta. Perguruan tinggi perlu membuka ruang dialog,” kata Cholil.

Dosen Kajian Wilayah Timur Tengah Islam di Universitas Indonesia (UI) itu pun mengingatkan, perguruan tinggi adalah tempat berkumpulnya para akademisi. Dengan demikian, sangat mungkin menciptakan ruang dialog dan diskusi mengenai kebijakan kampus. Cholil juga meminta agar permasalahan cadar hanya dikaitkan dengan isu cara pakaian di kampus, bukan kriminalitas maupun asusila.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengimbau seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk tidak melakukan diskriminasi. Imbauan itu diungkapkan Nasir merujuk pada aturan larangan penggunaan cadar di perguruan tinggi. “Bagi saya, jangan pernah lakukan diskriminasi di lingkungan kampus,” kata Nasir. (wilda fizriyani, Pengolah: eh ismail).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA