Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Konflik Luar Negeri Pengaruhi Radikalisme Dalam Negeri

Jumat 30 Mar 2018 08:23 WIB

Red: Ani Nursalikah

Kepala BNPT - Komjen. Pol. Suhardi Alius

Kepala BNPT - Komjen. Pol. Suhardi Alius

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Isu luar negeri dieksploitasi untuk membuat kegaduhan di dalam negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengatakan konflik yang terjadi di luar negeri mempengaruhi dinamika di dalam negeri terutama terkait masalah radikalisme dan terorisme.

Saat memberi pembekalan wawasan kebangsaan dan potensi ancaman terorisme di depan ratusan anggota Pasis Pendidikan Pengembangan Umum Sespima Angkatan 59 di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri, Kamis (29/3), Suhardi mengatakan konflik atau isu luar negeri dieksploitasi untuk membuat kegaduhan di dalam negeri.

"Seperti kasus Rohingya di Myanmar. Banyak masyarakat Rohingya yang disiksa di Myanmar, tapi di Indonesia ada sebagian kelompok yang justru memperkeruh dengan menimbulkan teror di Indonesia," kata Suhardi dikutip dari siaran pers.

Ia menilai yang dilakukan kelompok radikal dengan memanfaatkan isu-isu sangat tidak berdasar dan malah akan menimbulkan perpecahan di masyarakat. "Untuk itu, kepada semua pihak agar hal-hal semacam ini dijauhkan dan sedini mungkin bisa dicegah masuk ke Indonesia," kata Suhardi.

Khusus kepada para siswa Sespim Polri, Suhardi menegaskan, sebagai aparat yang bertanggung jawab menjaga keamanan, mereka harus mempunyai jiwa nasionalisme serta profesionalisme yang kuat. Menurut dia, kedua hal itu penting untuk membawa Indonesia semakin maju dan mandiri dalam menghadapi serangan ideologi asing yang dapat mengancam keamanan dan keutuhan bangsa.

"Potensi ancaman terorisme tidak pernah surut sehingga aparat harus mempunyai modal pengetahuan yang mumpuni dalam menghadapi persoalan tersebut," kata Suhardi.

Suhardi menjelaskan terorisme bukan hanya menjadi ancaman Indonesia, tetapi sudah menjadi musuh bersama negara-negara dunia. "Artinya, tantangan penanggulangan terorisme semakin hari semakin tinggi di era kemajuan teknologi informasi dengan produk internet dan media sosial yang berimbas dengan tereduksi identitas kebangsaan, terutama pada generasi muda," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA