Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Badak Jawa Mati, WWF Desak Pemerintah Bentuk Populasi Kedua

Sabtu 28 Apr 2018 06:36 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ani Nursalikah

Badak Jawa

Badak Jawa

Foto: WWF Indonesia
Taman Nasional Ujung Kulon masih merupakan satu-satunya habitat populasi badak jawa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- WWF Indonesia mendorong pemerintah mengembangkan populasi kedua bagi badak jawa selain di Ujung Kulon. Hal ini terkait dengan kematian badak jawa jantan bernama Samson yang ditemukan pada Kamis (26/4).

Samson ditemukan mati oleh petugas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan posisi mengambang di pantai Karang Ranjang, Resort Karang Ranjang, SPTN Wilayah II Pulau Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon. Meskipun setelah diidentifikasi kematian Samson bukan disebabkan penyakit menular, namun WWF Indonesia berharap pemerintah segera merampungkan Strategi Konservasi Badak 2018- 2023.

Saat ini Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) masih merupakan satu-satunya habitat bagi populasi badak jawa yang jumlahnya hanya sekitar 66 ekor, dengan rincian 36 jantan dan 30 betina. "Kami mendorong pemerintah segera merampungkan Strategi Konservasi Badak 2018-2023, dan fokus mengembangkan populasi kedua Badak Jawa selain di Ujung Kulon untuk mencegah punahnya Badak Jawa karena penyakit epidemi yang masif, bencana alam seperti tsunami atau gempa bumi," ujar Project Leader WWF-Indonesia Kurnia Khairani, dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Jumat (27/4).

Penyakit infeksius yang bersifat epidemik dikhawatirkan dapat menyebar secara cepat ke seluruh populasi badak jawa apabila kondisi hanya single populasi yaitu hanya ada di Ujung Kulon. Oleh karena itu, pengembangan populasi kedua harus segera menjadi prioritas strategi konservasi badak jawa ke depan.

Kematian Samson merupakan salah satu dari dinamika populasi badak jawa yang ada di dalam Kawasan TNUK. Pembelajaran penting dari kematian Samson ini adalah penanganan kematian badak jawa berlangsung lebih cepat dan efisien dibanding sebelumnya.

Respons cepat ini tidak terlepas berkat adanya Unit Monitoring Badak dan Unit Ksehatan Badak yang menjadi tulang punggung pengelolaan populasi badak jawa di Ujung Kulon. Proses koordinasi Balai TNUK bersama para mitra, termasuk WWF-Indonesia mampu merespons secara cepat proses penanganan mulai dari evakuasi, investigasi forensik yang melibatkan tenaga ahli dari universitas hingga proses publikasi sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik.

Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Mamat Rahmat berharap populasi kedua badak jawa segera dikembangkan. "Ini sangat penting untuk keberlangsungan populasi Badak Jawa," ujar Mamat beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, sebelum memindahkan badak ke habitat kedua, diperlukan penyiapan habitat seperti prakondisi. Prakondisi, yaitu menyiapkan habitat tersebut agar sesuai dengan yang dibutuhkan badak, seperti menyiapkan tumbuhan yang menjadi sumber makanan badak, tempat kubangan badak, dan lain sebagainya.

Penyiapan socio culture juga perlu dilakukan untuk membangun persepsi masyarakat sekitar mengenai satwa langka ini. Beberapa lokasi yang tengah diteliti untuk dijadikan habitat kedua badak jawa, antara lain Cagar Alam (CA) Leuweng Sancang di Garut, Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh di Sukabumi, CA Rawa Danau di Serang, BKPH Cikeusik di Pandeglang, BKPH Cikeusik di Pandeglang dan BKPH Malingping di Lebak.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA