Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Kenangan TGB tentang Kampus ITS

Sabtu 28 Apr 2018 05:16 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Didi Purwadi

Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengisi kuliah umum dan mentoring akbar bertajuk Membangun Kecakapan Akademik yang Berintegritas untuk Membangun Republik Indonesia yang Gilang Gemilang di Gedung Robotik ITS, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/4).

Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengisi kuliah umum dan mentoring akbar bertajuk Membangun Kecakapan Akademik yang Berintegritas untuk Membangun Republik Indonesia yang Gilang Gemilang di Gedung Robotik ITS, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/4).

Foto: Republika/Muhammad Nursyamsi
TGB datang terlambat karena mampir dulu ke warung soto Cak Har.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), mengisi kuliah tamu dan mentoring akbar di Gedung Robotik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/4). TGB mengaku tidak asing dengan ITS.

TGB bercerita bahwa ia pertama kali datang ke ITS pada 1988 atau 1989 saat mengantar sang kakak tertuanya, Sitti Rohmi Djalilah, kuliah di ITS. Setelahnya, TGB kerap ikut berkunjung ke ITS menengok kakaknya. ''Saya bersyukur kini bisa kembali datang ke ITS,'' katanya.

Namun, TGB mohon maaf karena dia datang agak terlambat. Ia mengaku datang terlambat karena mampir dulu ke warung soto Cak Har.

''Itu sotonya legendaris, itulah soto yang buat saya terlambat datang,'' katanya. ''Nah Cak kedua itu cerdas, amanah, dan kreatif. Saya yakin anak-anak ITS itu CAK semua."

Dalam kesempatan tersebut, TGB menjelaskan kehadiran Islam mendatangkan peradaban baru bagi umat manusia. Rasulullah hadir di tengah-tengah jazirah Arab yang penuh dengan konflik, di mana peradaban yang tumbuh berdasarkan perkembangan akan konflik dan peperangan.

"Semua peradaban kala itu bisa dicatat dari berbagai pertempuran-pertempuran, lalu menguasai, dengan itulah dia jadi peradaban yang unggul pada masanya. Ketika datang Islam, konsep peradaban yang berkemajuan itu diubah," katanya.

Saat Islam datang, kemajuan-kemajuan yang ada di Afrika, Arab, Spanyol, Serbia, hingga Bosnia, batu penjurunya bukan peperangan atau konflik, melainkan pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh pada masa perdamaian. "Jadi, kalau ada yang mengatakan Islam jaya karena perang, itu tidak benar," ungkapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA