Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Saat PDIP Matangkan Cawapres Jokowi

Jumat 11 May 2018 08:48 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Elba Damhuri

Jurnalis mengambil gambar saat rilis survei Roda Tiga Konsultan

Jurnalis mengambil gambar saat rilis survei Roda Tiga Konsultan

Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah kiai di Ciayumajakuning dukung Gatot Nurmantyo sebagai capres.

REPUBLIKA.CO.ID  BLITAR — Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hingga kini masih mematangkan sejumlah nama yang nantinya akan menjadi bakal calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Joko Widodo di Pemilu Presiden 2019.

Sekretaris Jendral PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan, mandat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri hanya menempatkan Jokowi sebagai calon presiden."Tentunya calon Wakil Presiden harus sevisi, mampu bekerja sama dan membantu dengan baik Pak Jokowi," kata Hasto di Blitar, Jawa Timur, Kamis (10/5).

Hasto yang ditemui di sela-sela ziarah dengan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri mengatakan, PDIP memang selektif dan ingin mencari calon wakil presiden yang mempunyai karakter, konsisten, dan bukan sekadar punya elektabilitas yang tinggi. Dia juga mengakui ada banyak nama-nama yang muncul yang dinilai cocok sebagai pendamping Jokowi di Pemilu Presiden 2019.

Namun, dirinya menyebut hal itu adalah dinamika yang pasti ada dan partai hingga kini belum diputuskan."Nama-nama yang muncul adalah bagian dari dinamika dan aspirasi yang sehat dalam demokrasi. Kami cari putra putri terbaik bangsa yang sudah mendapatkan pengakuan dari rakyat sebagai pemimpin dan karena kerja kerasnya untuk rakyat," kata dia.

Hingga kini, PDIP sudah berkomunikasi dengan sekitar delapan partai. PDIP baru fokus untuk membahas Pemilu Presiden 2019, setelah pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkda) 2018. "Ini masih pencermatan semua. Sampai saat ini ada delapan partai yang memberikan dukungan dan kami terus galakkan untuk persiapan pemilu legislatif dan pemilu presiden yang bersamaan," ujar dia.

Hasto menambahkan, untuk Pemilu Presiden 2019, nantinya akan melibatkan seluruh calon anggota legislatif yang berjumlah sekitar 20.800 orang di seluruh Indonesia. Mereka adalah mesin partai yang juga ikut serta memberikan dukungan demi kemenangan Jokowi di Pemilu Presiden 2019.

"Mereka adalah calon yang ditetapkan Ketua Umum DPP PDIP. Mesin politik kuat bukan hanya di struktur tapi seluruh bakal calon anggota legislatif," kata Hasto.
Sebelumnya, Direktur Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi menuturkan, dari survei yang dilakukan 25-31 Maret lalu, sejumlah nama yang diajukan untuk mendampingi Jokowi, nama AHY selalu muncul sebagai yang tertinggi tingkat keterpilihannya.

"Dari 11 nama calon wakil presiden yang banyak beredar Agus Harimurti cukup menonjol dukungannya," kata Burhanuddin Muhtadi di Kawasan Cikini Jakarta Pusat, Kamis (3/6).

AHY unggul dari 10 nama lain yang juga berpeluang digaet Jokowi untuk menjadi cawapres. AHY mendapatkan 22,4 persen suara. Dia mengungguli Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mendapat 10,5 persen, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dengan angka 8,4 persen. Nama Muhaimin Iskandar ada di bawah Mahfud dengan tingkat 4.0 persen.

Sementara, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat Amir Syamsuddin mengatakan, Demokrat masih berpikir AHY akan diusung sebagai calon presiden. Amir berharap muncul poros ketiga di tengah poros Jokowi dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

"Demokrat tetap pada posisinya saat ini. Bahwa kami yakin akan ada ada faktor game changer yang bisa mengubah peta. Dan mungkin saja ada calon alternatif atau poros ketiga kenapa tidak," kata Amir.

Demokrat, kata dia, tidak ingin buru-buru merapatkan barisan kepada dua poros yang mulai menguat, yakni Prabowo Subianto bersama Gerindra-PKS atau ke poros PDIP mendukung Joko Widodo.

Capres alternatif
Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mendapat dukungan dari ulama dan santri di Cirebon untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden. Deklarasi dukungan kepada Gatot itu dibacakan oleh para kiai yang menghadiri acara Haul KH Bunyamin ke-30 dan Khotmil Qur'an di Pondok Pesantren Ulumuddin, Cirebon, Kamis (10/5). Pembacaan deklarasi itu dihadiri langsung oleh Gatot.

KH Badawi Murai, salah satu kiai yang ikut mendeklarasikan dukungan kepada Gatot Nurmantyo, mengungkapkan, sosok Gatot layak untuk maju dalam pencalonan presiden pada 2019 mendatang. Dia menilai, Gatot memiliki karakter pemimpin yang ideal. ''Pak Gatot itu orang yang religius, sangat dekat dan mengayomi anak buahnya, beliau juga cukup dekat dengan kiai,'' tutur Badawi.

Badawi menjelaskan, pembacaan deklarasi itu dilakukan oleh sepuluh orang perwakilan kiai dari berbagai daerah di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan). Dia mengklaim, masih banyak kiai lain yang siap mendukung Gatot untuk maju dalam Pilpres.

Sementara itu, Gatot mengaku tidak mengetahui bakal ada deklarasi dukungan untuk dirinya maju dalam pilpres. Dia mengaku, diundang ke tempat tersebut untuk menghadiri acara haul dan Khotmil Qur'an di Pondok Pesantren Ulumuddin Cirebon. ''Mengenai deklarasi, itu di luar pengetahuan saya,'' kata Gatot.

Meskipun begitu, Gatot mengucapkan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh para ulama dan santri kepada dirinya. Dia mengungkapkan, saat ini dirinya masih melakukan komunikasi dengan sejumlah partai. Dia menyebutkan, ada beberapa partai yang sudah siap mendukung dirinya untuk maju dalam pilpres.

Namun, untuk kepastian pencalonannya, dia meminta masyarakat menunggu pada Agustus nanti. ''Lihat saja Agustus nanti,'' tegas Gatot. (antara, Pengolah: agus raharjo).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA