Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Petrik, Inovasi Limbah Pisang untuk Media Tanam

Selasa 29 May 2018 18:28 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Inovasi Perangkat Tanam Organik (Petrik) karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Inovasi Perangkat Tanam Organik (Petrik) karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Foto: Dok Pribadi
Selain sebagai tempat menanam, Petrik juga menjadi alternatif souvenir dari Malang

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Wilda Fizriyani/Wartawan Republika

 

Ide inovasi dapat muncul dari hal apapun, termasuk di sumber-sumber yang dianggap tak lagi bermanfaat bagi manusia. Salah satu sumber inspirasi yang sering dijadikan inovasi para peneliti Indonesia, yakni aneka limbah.

Limbah batang pisang menjadi sumber inspirasi darilima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk membuat sebuah inovasi unggulan. Mahasiswa Fakultas Pertanian (Fpet) UB, Firdausi, Siti Halimah, Nabilah, Dial Juliansyah dan Andri Saputro mencoba memanfaatkan limbah batang pisang menjadi rupiah dan inovasi peluang usaha baru yang diberi nama Petrik (Perangkat Tanam Organik).

Perwakilan kelompok, Firdausi menerangkan, produksi pisang di Indonesia pada 2015 mencapai 7,3 juta ton. Kontribusi produksi terbesar terdapat di daerah Jawa Timur yaitu sekitar 21,87 persen dari total produksi pisang Indonesia. "Dan salah satu sentra produksi pisang di Jawa Timur, kabupaten terbesar berada di Kabupaten Malang," kata mahasiswa angkatan 2016 ini kepada Republika, Selasa (29/5).

Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (2016), Kabupaten Malang merupakan sentra produksi pisang terbanyak di Jawa Timur dengan kontribusi produksi sebesar 690.136 ton atau sekitar 42,35 persen dari total produksi pisang di Provinsi Jawa Timur. Data produksi tanaman pisang yang tinggi ini, kata, Firda, mengindikasikan hasil samping berupa limbah batang pisang.

Menurut Firda, fakta kelimpahan tersebut selama ini belum banyak dimanfaatkan. Hal ini karena masyarakat menganggapnya hanya sebagai limbah. Kemudian juga belum banyak orang yang tahu cara mengolah limbah batang pisang dengan benar.

Berdasarkan penelitian, Firda mengungkapkan, pemanfaatan bagian tumbuhan pisang (Musaceae) di masyarakat Malang hanya sebesar 13 persen. Jumlah ini sangat disayangkan karena pada dasarnya batang pisang dikenal sebagai bahan organik hasil samping tanaman pisang yang memiliki kandungan hara yang baik. Dari faktor ini, tanaman pisang sebenarnya dapat dimanfaatan menjadi media tanam.

Di sisi lain, ia menambahkan, lahan pertanian di Kota Malang semakin berkurang. Penyebabnya, kata dia, karena meningkatnya peruntukan lahan rumah tinggal. Selanjutnya, kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi bahan pertanian organik yang semakin tinggi.

Selain itu, pemerintah juga saat ini sedang mengembangkan program urban farming untuk memenuhi kebutuhan pangan di kota dalam mengantisipasi ancaman krisis pangan 2045. Namun, dia menilai, kegiatan ini khususnya di Kabupaten Malang terkendala oleh keterbatasan lahan yang tersedia di tengah-tengah masyarakat.

Melihat keterbatasan tersebut, mahasiswa UB berpendapat adanya peluang mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Caranya, dengan berwirausaha mengembangkan limbah batang pisang menjadi media tanam yang memiliki potensi pasar yang luas. Untuk itu, timnya membuat perangkat tanam yang komplit berisi media tanam, media semai dan wadah.

 

Media tanam

Firda menjelaskan, usaha Petrik selain memiliki manfaat dalam membantu mengurangi limbah pisang yang melimpah juga bisa memberikan kontribusi dalam program pemerintah Urban farming di perkotaan. Usaha ini dianggap mampu menyediakan alternatif media tanam tanaman sayuran di perkotaan. Kemudian juga bisa memberikan alternatif souvenir (buah tangan) di Kota Malang.

Firda berpendapat, Petrik memiliki keunggulan dibandingkan dengan media tanam lain. Beberapa di antaranya dinilai tidak membutuhkan lahan yang luas, mudah dalam perawatan dan bisa ditanami beberapa jenis sayuran. Selanjutnya, dianggap lebih ramah lingkungan dan mempunyai nilai estetika yang tinggi.

"Produk Petrik juga menyediakan refill paket isi Petrik sehingga konsumen dapat melakukan budidaya tanaman dalam beberapa kali masa tanam," ujar Firda.

Petrik juga dianggap akan memberikan dampak positif pada nilai jual produk lokal. Dengan demikian diharapkan mampu mewujudkan mimpi Indonesia untuk melakukan urban farming yang berkelanjutan. "Dan produk Petrik bukan hanya mengedepankan sisi bisnis dan profit saja, namun juga sisi sosial dan lingkungan masyarakat," tambah dia.

Ke depan, tim berusaha terus memperbaiki dan mengatasi inovasinya agar lebih maju dan profesional. Hal ini perlu dilakukan karena dampak dari usaha ini sangat bagus, baik dari bidang bisnis, lingkungan maupun sosial.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA