Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Pengamat: AHY 'Batu Sandungan' Gatot Dapat Dukungan Demokrat

Kamis 07 Jun 2018 21:29 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Bayu Hermawan

Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan keterangan seusai pertemuan dengan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/5).

Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan keterangan seusai pertemuan dengan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/5).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Demokrat dinilai sulit untuk memberikan restu ke calon lain di Pilpres.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi cium tangan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo kepada Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dinilai belum menjamin restu mantan presiden ke 6 RI ini kepada Gatot maju di pilpres 2019. Salah satu batu sandungan Gatot mendapat restu Demokrat adalah, sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Pengajar Ilmu Politik di Universitas Al Azhar Indonesia, Zaenal A Budiyono menilai Partai Demokrat akan sulit menentukan pilihan ke Gatot. Sebab, dalam Rapimnas Demokrat pada 10 Maret lalu mempercayakan putra sulung SBY ini maju di pilpres 2019.

"Apalagi di kubu SBY masih ada nama AHY yang juga cukup positif di survei. Dengan demikian jalan GN cukup terjal karena peta dukungan parpol yang belum di tangan," ujarnya, Kamis (7/6).

Selain itu, kata dia, Demokrat akan sulit memberikan dukungan kepada Gatot lantaran poros ketiga hingga kini tak terlihat kemajuan berarti. Bisa jadi dukungan Demokrat ini jatuh pada kubu Jokowi atau bergabung ke kubu Prabowo.

Zaenal memandang aksi cium tangan Gatot ke SBY yang sempat menjadi pembicaraan, tentu bukan sekedar penghormatan prajurit ke seniornya. Pesan safari politik dalam pertemuan tersebut sangat kental, walaupun Gatot menampik cium tangan tersebut memiliki pesan politik. Gatot bertemu SBY dalam sama hadir dalam acara buka puasa bersama di rumah mantan Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung, Sabtu pekan lalu.

"Publik sepantasnya berspekulasi karena sebelumnya belum pernah terjadi Gatot mencium tangan SBY," kata Zaenal.

Sebab aksi cium tangan bukanlah kewajaran dalam penghormatan di militer. "Ekspresi dengan cium tangan bukan tradisi tentara dan lebih dekat ke hubungan tradisional. Misalnya mencium tangan kiai dan ulama," kata dia.

Menurut Zaenal, wajar bila kesan yang muncul dari cium tangan itu, Gatot mengharap restu Demokrat dengan mencium tangan SBY. "Gatot bisa saja berharap endorsement dari SBY dan Partai Demokrat untuk memuluskan misinya di 2019, karena sejauh ini GN kesulitan mendapat perahu parpol," jelas Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) ini.

Baca juga: Gatot Cium Tangan SBY, Ini Komentar AHY

Sementara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengaku belum mengetahui perihal kabar pendekatan yang dilakukan mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo terhadap Partai Demokrat. Bantahan ini untuk menjawab perihal foto Gatot mencium tangan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang beredar.

"Saya belum mendengar itu secara langsung. Yang jelas silaturahim, komunikasi politik terus dilakukan sewaktu-waktu. Tidak selalu muncul di publik ataupun media," kata Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat itu di Medan, Senin (4/6).

Agus mengatakan, hingga kini, partai berlambang bintang mercy itu terus membangun komunikasi dengan elite politik mana pun. Hal ini dilakukan hingga koalisi tercipta jelang pilpres 2019. Koalisi ini, lanjutnya, tentu harus sesuai dengan visi Demokrat yang ingin kembali membangun ekonomi kerakyatan.

"Saat ini adalah waktu untuk saling membangun rasa percaya. Koalisi tidak boleh asal-asalan, asal bagi-bagi kue kekuasaan semata. Kami lebih senang berbicara visi, koalisi harus membangun visi. Yang jelas Demokrat ingin membangun lebih besar lagi, seperti 10 tahun SBY sebagai presiden," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA