Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Anies-Aher?

Rabu 13 Jun 2018 04:27 WIB

Red: Elba Damhuri

Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Anies sangat mungkin maju jadi capres, tapi ada satu hal yang menghambatnya. Apa itu?

Versi Media Survei Nasional (Median) terkait elektabilitas kandidat capres nama Joko Widodo masih tertinggi, yakni 36,2 persen pada April 2018. Diikuti Prabowo Subianto dengan 20,4 persen, Gatot Nurmantyo 7 persen, dan Jusuf Kalla 4,3 persen. Kemudian, baru Anies Baswedan 2 persen, Cak Imin 1,9 persen, dan AHY 1,8 persen,

Sementara Aher, seperti diungkapkan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, merupakan calon wapres terkuat dari PKS. Aher memiliki elektabilitas tertinggi dari sembilan capres dan cawapres yang disiapkan PKS.

Sebagai Gubernur Jawa Barat dua periode, Aher dinilai sukses membangun provinsi itu. Pembangunan infrastruktur terutama di Jabar selatan membuktikan betapa kinerja Aher memang nyata. Aher tercatat sebagai gubernur di Indonesia dengan jumlah penghargaan terbanyak.

Hambatan Anies
Meski mendapat catatan cukup bagus sebagai capres alternatif, namun tidak mudah bagi Anies untuk maju. Ada beberapa hal yang dinilai bakal menghambat langkah Anies maju sebagai capres.

Wakil Sekjen PAN, Saleh Partaonan Daulay, meyakini tidak akan mudah memajukan Anies Baswedan sebagai salah satu calon presiden alternatif. Penghalang utama Anies, kata Saleh, yakni janji menuntaskan jabatan di Jakarta hingga lima tahun.

Menurut Saleh, ada beberapa penghalang Anies dapat maju sebagai capres maupun cawapres di Pilpres mendatang. Pertama, Saleh mengatakan, janji yang harus dituntaskan Anies untuk Jakarta selama lima tahun ke depan.

Anies berjanji tidak akan maju jadi capres/cawapres dan akan menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai Gubernur DKI. "Anies dituntut untuk membuktikannya di DKI,” kata Saleh, Ahad (10/6).

Jika Anies memaksa maju menjadi capres pada Pilpres 2019, ia mengungkapkan apa bedanya dia dengan Presiden Joko Widodo. “Apa bedanya dengan Jokowi yang menjabat gubernur dalam waktu singkat?” kata Saleh.

Karena itu, Anies harus bersabar hingga masa jabatannya di DKI selesai pada 2022. Jika sudah terbukti mampu membenahi Jakarta, barulah semua kalangan yakin Anies akan mampu membenahi Indonesia.

Anies pun dianggap Saleh tidak memiliki kendaraan politik untuk maju sebagai capres maupun cawapres. Jika ia maju, tentu akan berhadap-hadapan dengan Partai Gerindra yang menjadi pengusungnya pada Pilkada DKI Jakarta.

Anggota Tim Pemenangan Pemilihan Presiden Partai Gerindra M Taufik mengatakan partainya masih mempertimbangkan pasangan yang tepat untuk bersanding dengan Ketua Umum Prabowo Subianto. Anies merupakan salah satu nama yang hingga kini masih didiskusikan.

Taufik tak masalah jika koalisi memutuskan Anies yang akan mendampingi Prabowo sebagai bakal calon presiden. Ia tak mempermasalahkan jika Gubernur DKI itu harus melepaskan jabatannya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA