Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

BMKG Sudah Dua Kali Kirim Peringatan Sebelum Insiden di Toba

Selasa 19 Jun 2018 21:55 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Keluarga penumpang menangis saat menyaksikan proses pencarian penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6).

Keluarga penumpang menangis saat menyaksikan proses pencarian penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6).

Foto: Antara/Irsan Mulyadi
BMKG mencatat ada potensi hujan dan peningkatan kecepatan angin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo mengungkapkan, pihaknya telah memberikan peringatan dini terkait cuaca di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Melalui Kantor Balai Besar Wilayah 1 BMKG, pihaknya telah mengirimkan peringatan dini sebanyak dua kali.

"Di sana kebetulan ada Kantor Balai Besar Wilayah 1 BMKG yang memberikan peringatan dini kemarin. Tanggal 18 itu sempat dua kali disampaikan pada sekitar jam 11.00 WIB, dan sekitar jam 14.00 WIB," tutur Prabowo di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Selasa (19/6).

Ia menerangkan, jangka waktu peringatan dini itu dapat mencapai tiga hingga empat jam ke depan. Karena itu, sebenarnya peringatan dini yang diberikan pada pukul 14.00 WIB itu sudah termasuk peringatan dini untuk jam pada saat kejadian tenggelamnya kapal di Danau Toba.

"Untuk wilayah Samosir di antaranya disebutkan adanya potensi terjadi kondisi cuaca yang signifikan di sana untuk terjadi hujan dan sebagainya," kata dia.

Baca: Ini Cerita Korban Selamat KM Sinar Bangun

Kemudian, berdasarkan catatan dari automatic weather station milik BMKG di Parapat, memang terjadi semacam peningkatan grafik sekitar pukul 17.00 WIB. Di sana tercatat adanya peningkatan kecepatan angin, dari yang umumnya 2-3 m/detik, menjadi 6 m/detik atau sekitar 12 knots.

"12 knots itu untuk daerah perairan dapat memicu ketinggian ombak kurang lebih 75 cm atau 0,75 m sampai 1,25 m. Kalau kita kihat risikonya, antara 1 m sampai 1,25 m ini memang bisa berbeda-beda, tergantung pada kapal yang terdampak," jelasnya.

Baca: Peralatan Canggih Dikerahkan untuk Cari Korban Sinar Bangun

Untuk kapal nelayan yang relatif kecil misalnya, ketinggian ombak seperti itu dapat dikatakan cukup signifikan. Sudah bisa memberikan dampak pada skala sedang, bahkan puncaknya bisa pada skala cukup tingi risikonya.

"Ini dari sisi meteorologinya ya. Belum kita bicara apakah kemudian itu ternyata bebannya berlebih atau tidak, tentunya bukan dari sisi BMKG yang memberikan informasi tersebut," ujar Prabowo.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA