Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Masyarakat Diminta Waspadai Angin Kencang

Jumat 22 Jun 2018 04:07 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Esthi Maharani

Gelombang tinggi. Ilustrasi

Gelombang tinggi. Ilustrasi

Foto: 2space.net
hembusan angin kencang ini bisa memicu terjadinya gelombang tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Cilacap, mengingatkan agar masyarakat di wilayah Jateng bagian selatan mewaspadai kemungkinan terjadinya angin kencang. Terutama bagi warga yang hendak berwisata ke kawasan pantai karena hembusan angin kencang ini bisa memicu terjadinya gelombang tinggi.

''Angin kencang yang terjadi saat ini bukan berupa angin puting beliung yang biasa terjadi pada musim pancaroba. Melainkan berupa angin kencang yang bertiap konstan,'' kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo, Kamis (21/6).

Berdasarkan pemantauan di beberapa lokasi, Teguh menyebutkan, hembusan angin di wilayah daratan Kabupaten Cilacap memiliki kecepatan 15-22 Knot dari arah timur. Hembusan angin ini relatif lebih kencang dari biasanya yang hanya berkisar 5-10 knot.

Dari hasil pemantauan tersebut, Teguh menyebutkan hembusan angin di kawasan pantai dan perairan Cilacap, biasanya akan lebih tinggi lagi. Untuk itu, BMKG Cilacap juga sudah mengeluarkan peringatan dini pada para nelayan agar berhati-hati terhadap gelombang tinggi.

''Kami sudah edarkan surat peringatan pada para nelayan agar berhati-hati saat melaut.  Prakiraan kami, ketinggian gelombang laut maximum bisa mencapai 2.5-5 meter,'' katanya.

Menurutnya, faktor yang menyebabkan terjadinya angin kencang di selatan Pulau Jawa ini, karena adanya perbedaan tekanan udara yang signifikan antara bagian utara khatulistiwa dan selatan khatulistiwa.

Saat ini terpantau tekanan udara di Australia Bagian Selatan sebesar 1.029 mb atau masuk kategori tekanan tinggi, sedangkan tekanan udara di Samudera Pasifik Timur Laut Filipina sekitar 1.009 mb atau masuk tekanan rendah.

''Perbedaan tekanan udara yang cukup signifikan ini mengakibatkan tiupan angin yang lebih kencang dari biasanya, dari wilayah Australia Selatan ke wilayah tekanan rendah di sekitar Filipina,'' jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA