Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Hipertensi Dominasi Tes Kesehatan Sopir Bus di Giwangan

Jumat 22 Jun 2018 02:35 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Tes kesehatan untuk sopir bus.

Tes kesehatan untuk sopir bus.

Foto: Republika/Yasin Habibi
Selain hipertensi, sebagian sopir bus diketahui idap diabetes dan kolesterol tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penyakit Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi temuan terbanyak pada saat tes kesehatan untuk sopir bus di Terminal Giwangan Yogyakarta pada masa Angkutan Lebaran 2018. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardaya di sela pelaksanaan tes kesehatan untuk sopir bus di Yogyakarta, Kamis (21/6).

"Temuan terbanyak adalah hipertensi meskipun ada juga temuan sopir bus yang menderita diabetes militus dan kolesterol tinggi," kata Tri.

Tri menyebutkan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama sejumlah instansi terkait seperti Jasa Raharja dan juga Satuan Pelayanan Terminal Giwangan Yogyakarta menggelar dua kali tes kesehatan untuk sopir bus di Terminal Giwangan yaitu pada masa arus mudik dan saat arus balik.

Dari hasil pemeriksaan kesehatan, diketahui sekitar 40 persen dari sopir bus mengalami hipertensi dan kurang dari lima orang mengalami diabetes militus sehingga harus dirujuk ke pos kesehatan untuk memperoleh pengobatan.

"Setelah mendapat obat, sopir bus yang mengalami hipertensi disarankan untuk beristirahat lebih dulu guna memulihkan tekanan darah mereka agar kembali normal. Bisa saja, tekanan darah yang tinggi ini disebabkan sopir bus kelelahan," katanya.

Oleh karena itu, Tri Mardaya mengingatkan agar sopir bus bisa beristirahat cukup dan tidak memaksakan diri untuk mengemudikan kendaraan apabila merasa lelah.

"Saya kira, penumpang akan memahami jika sopir meminta istirahat selama beberapa menit daripada meneruskan perjalanan dalam kondisi lelah dan mengantuk karena akan lebih berbahaya," katanya.

Tri menyebut, istirahat yang baik tidak harus diukur dari lama waktu beristirahat tetapi dari kualitas istirahat tersebut. "Tidur cukup dilakukan lima hingga 10 menit asalkan benar-benar berkualitas," katanya.

Selain istirahat cukup, Tri meminta agar sopir bus menjaga asupan makanan yang sehat dan memperbanyak konsumsi air putih. "Tidak perlu banyak meminum minuman berenergi," katanya.

Sedangkan dari dua kali tes kesehatan yang dilakukan, tidak ditemukan sopir bus yang berada dalam pengaruh alkohol atau mengonsumi obat-obatan terlarang.

Sementara itu, salah seorang sopir bus tujuan Yogyakarta-Surabaya, Agung mengatakan senang dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada masa Angkutan Lebaran.  "Justru saya tahu bagaimana kondisi kesehatan saya. Saya diberi obat penurun gula darah dan vitamin," kata Agung.

Dari hasil tes kesehatan melalui pemeriksaan urine, diketahui gula darah Agung cukup tinggi. Ia mengaku sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan mengonsumsi empat gelas kopi.

"Sebenarnya saya tidak terlalu sering minum kopi. Tetapi hari ini hanya ingin saja," katanya yang mengaku jika merasa lelah tidak pernah memaksakan diri untuk mengemudi.

Setiap hari, Agung mengemudikan bus Yogyakarta-Surabaya pulang pergi. Satu kali perjalanan ditempuh dalam waktu tujuh hingga delapan jam.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA