Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Mungkinkah Muharrem Ince Kalahkan Erdogan?

Ahad 24 Jun 2018 03:24 WIB

Red: Elba Damhuri

Bendera Turki di jembatan Martir, Turki

Bendera Turki di jembatan Martir, Turki

Foto: AP
Popularitas dan elektabilitas Muharrem Ince terus naik.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Idealisa Masyarafina

Ahad (24/6) ini menjadi hari penting yang ditunggu-tunggu rakyat Turki. Pemilihan presiden yang digelar kali ini akan menjadi penentu apakah Recep Tayyip Erdogan akan tetap berkuasa atau mengakhiri kekuasaannya setelah 11 tahun menjadi perdana menteri dan empat tahun sebagai presiden.

Salah satu pesaing terberat Erdogan pada pemilihan presiden adalah Muharrem Ince yang diusung oleh Partai Rakyat Republik (CHP). Dia dikenal sebagai seorang sekuler sekaligus kritikus bagi Erdogan. Ince telah menjadi anggota parlemen sejak 2002.

CHP berencana untuk bersekutu untuk pertama kalinya dengan partai-partai sayap kanan dengan harapan dapat mengalahkan Erdogan. Saat ini, Partai AK konservatif Erdogan memiliki mayoritas di parlemen.

Erdogan mendesak pemilu lebih cepat untuk memperkuat posisinya dengan kekuatan yang ditingkatkan. Pemilihan parlemen juga akan diadakan pada hari yang sama, 24 Juni. Selama ini, kaum sekuler pada dasarnya menentang agenda Partai AK dan melihatnya sebagai Islamisasi negara.

Ince berasal dari provinsi barat laut Yalova. Ince pernah mengatakan, dia akan menjual istana kepresidenan mewah yang dibangun oleh Erdogan jika dia menang. Selain itu, ia pernah pula menuduh presiden dan Partai AK berada di balik kudeta yang gagal pada 2016.

Ince yang merupakan mantan guru fisika sudah memiliki pengikut di kalangan pendukung Partai Rakyat Republik sekuler (CHP). Dalam serangan kampanyenya kepada Erdogan, ia menyebut, presiden pertama Turki Mustafa Kemal Ataturk tetap menjadi pemimpin abadi. Ataturk dikenal sebagai perampas kekhalifahan Turki Ustmani dan yang memodernisasi Turki menjadi sekuler.

Dalam waktu kurang dari dua bulan, popularitas Ince telah meningkat drastis. Tahun lalu, ia mencoba dan gagal menjadi pemimpin CHP.

Hal ini menjadi salah satu kampanye Erdogan sebagai bukti bahwa Ince tidak pernah bisa berharap mengambil kursi kepresidenan. Tapi, elektabilitas Ince justru makin naik, hampir 30 persen. Sebelumnya, basis CHP jarang melebihi 25 persen di negara yang makin konservatif ini.

Pada hitungan elektabilitas terakhir, 44 persen pemilih Turki mengatakan, petahana Erdogan harus mempertahankan posisinya. Sedangkan, 30 persen pemilih yakin akan memilih İnce.

Kritik keras

Selama enam pekan terakhir, Presiden Erdogan telah menikmati 181 jam waktu tayang televisi nasional. Sementara, kandidat presiden lainnya, Muharrem Ince, mendapat alokasi waktu 15 jam, Meral Aksener tiga jam, dan selebihnya satu jam atau kurang, menurut Supreme Board of Radio and Television.

Ince diketahui menjadi sasaran utama Erdogan dengan kampanye berita palsu oleh para pendukung pemerintah. Tapi, Ince telah menangkis serangan itu dengan humor dan pesan penuh harapan. Sikap ini pun mulai menarik banyak orang untuk menyamai pendukung Erdogan.

Sepanjang masa kampanye, tak ada keraguan persona Erdogan telah mendominasi. Poster kampanyenya adalah yang terbesar dan paling banyak.

Ia juga mengontrol semua alat kekuasaan. Pegawai pemerintah diperintahkan untuk menghadiri rapat-rapat Erdogan dan memberikan suara jika mereka menghargai pekerjaan mereka, ungkap para aktivis oposisi, seperti dilansir New York Times, Sabtu (23/6).

Selain itu, wartawan di media yang kebanyakan dimiliki oleh sekutu presiden diberikan panduan tentang apa yang harus ditulis. Meskipun demikian, tanda ketidakpuasan tetap terlihat. Pendukung menyatakan cinta mereka untuk Erdogan, tapi banyak yang mulai meninggalkan kampanye di tengah pidatonya yang panjang lebar.

Mantan sekutu Islam yang telah berbalik melawan presiden adalah yang paling vokal. Temel Karamollaoglu, pemimpin partai kecil, Partai Felicity, mengkritik Erdogan karena mengkhianati agamanya dengan membiarkan korupsi dan ketidakadilan menyerang pemerintahannya.

Dia berencana menarik dua hingga tiga persen dari pengikut agama Erdogan yang konservatif. "Satu orang tidak dapat memiliki semua kekuatan,\" kata Karamollaoglu kepada para pendukung di Kota Sakarya. "Anda tidak bisa mengharapkan keadilan dari hakim yang menerima pesanan dari atas."

The Republican People's Party yang memiliki tradisi sekularisme yang panjang telah menambahkan beberapa Islamis ke daftar partainya untuk membangun alternatif Islamis dari Partai AKP Erdogan. Salah satu pendiri AKP bersama Erdogan, mantan wakil perdana menteri Abdullatif Sener, mencalonkan diri untuk Parlemen dalam daftar The Republican People's Party di Kota Konya yang konservatif.

Dia mengejutkan penduduk desa selama pertemuan di sebuah distrik pertanian dengan kritik keras terhadap Erdogan yang tidak pernah terdengar di media arus utama.

"Jika Anda tidak dapat membeli makanan dan pakaian untuk diri sendiri, itu berarti ekonomi tidak tumbuh," katanya kepada mereka. Hal ini sekaligus membantah klaim pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen.

Dia menuduh Erdogan mengabaikan pertanian Turki untuk menghasilkan uang dari transaksi impor bahan makanan. "Anda ingin mengolah tanah Anda, tetapi pemerintah ini membuat kita sepenuhnya bergantung pada impor. Semua yang mereka pikirkan adalah mengobrak-abrik negara," kata Sener.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA