Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Pengamat: Peluang Gatot Dicapreskan Semakin Kecil

Senin 02 Jul 2018 04:13 WIB

Red: Ratna Puspita

Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo

Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Kelompok oposisi pemerintah justru memunculkan nama-nama sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) yang juga Dosen FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia, Zaenal A Budiyono, menyebut ruang Gatot Nurmantyo untuk dicapreskan semakin sempit. Hal ini melihat fenomena perkembangan terbaru dinamika nama capres di antara partai yang sebelumnya sempat mendukung Prabowo. 

Gatot Nurmantyo sempat digadang sebagai calon kuat capres alternatif dari oposisi. Namun, kelompok oposisi pemerintah belakangan memunculkan nama-nama sendiri sebagai calon presiden, di luar Prabowo Subianto yang telah dikenal. 

PKS sempat menyebut duet Anies Basewdan-Ahmad Heryawan. Sementara PAN memunculkan Amien Rais sebagai capres, selain ketua umumnya Zulkifli Hasan. 

"Perkembangan terbaru, PAN yang sejak awal kabarnya menyiapkan tiket capres untuk GN, dalam perkembangan terakhir justru membuka opsi bagi  kembalinya Amien Rais ke medan laga," kata Zaenal dalam keterangannya kepada wartawan, Ahad (1/7). 

Deklarasi Koalisi Umat baru-baru ini mendaulat Amien Rais untuk bertarung di Pilpres 2019. Menurut dia, hal ini menunjukkan terjadinya pergeseran dukungan PAN. 

Sementara, kata dia, bila Gatot mengharapkan dukungan dari Gerindra-PKS tampaknya juga akan sangat sulit. Sebab, dia menerangkan, pasca-Pilkada 2018, justru terjadi bonus elektoral ke Prabowo Subianto. 

Ini terlihat setelah calon-calon yang didukung Gerindra-PKS tampil mengejutkan di Jabar dan Jateng—dua provinsi dengan populasi besar. 

Ia memaparkan peluang Gatot ini semakin kecil ditambah dengan Partai Demokrat yang tak juga memberikan sinyal positif ke Gatot, karena keberadaan putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Belakangan, strategi pendukung Gatot berupaya mencari dukungan capres ke Partai Berkarya.

Namun, menurut Zaenal, harapan pendukung Gatot di Partai Berkarya ini disambut partai yang diketuai Tommy Suharto menetapkan persyaratan. Partai Berkarya mensyaratkan relawan Gatot bergabung ke Berkarya pada Pileg 2019. 

Di sisi lain, dukungan Berkarya ini juga dianggap tidak bisa memainkan peran strategis di pilpres 2019. "Sebab mengacu kepada UU Pemilu yang baru, dibutuhkan setidaknya 20 persen suara pada Pemilu 2014 agar Gatot bisa maju ke pilpres," kata dia.

Karena itu, ia mengingatkan pemegang tiket pencalonan presiden  adalah parpol-parpol yang saat ini memiliki kursi di DPR. Sementara Berkarya adalah partai baru yang belum memiliki kursi sehingga tidak akan bisa memainkan peran strategis di Pilpres 2019.

Ia menilai bentuk dukungan yang bisa diberikan Berkarya ke Gatot tidak lebih dari dukungan moral dan politik. Sama seperti dukungan ormas atau komunitas di masyarakat ke calon presiden. 

"Padahal yang dibutuhkan Gatot saat ini lebih dari itu, dimana ia memtutuhkan tidak hanya dukungan politik, melainkan tiket politik dari parpol-parpol yang ada," kata Zaenal. Amri Amrullah

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA