Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Rektor IPB: Seluruh Korban Kecelakaan Kapal Sudah Pulih

Sabtu 21 Jul 2018 16:26 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Sebuah kapal nelayan menerjang ombak usai melaut di laut jawa, Tegal, Jateng, Jumat (27/1).

Sebuah kapal nelayan menerjang ombak usai melaut di laut jawa, Tegal, Jateng, Jumat (27/1).

Foto: Antara/Okky Lukmansyah
Seluruh korban sudah dibolehkan pulang dan kembali ke Bogor, Sabtu (20/7).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria mengatakan rombongan peserta field course Pulau Tinjil yang mengalami kecelakaan kapal laut di perairan Banten sudah pulih. Seluruhnya sudah dibolehkan pulang.

"Semua dalam kondisi baik, fisik yang sehat, Sabtu ini kembali ke Bogor menggunakan bus, butuh waktu enam jam perjalanan dari Baten," kata Arif dalam jumpa media di Gedung Rektorat IPB Dramaga.

Arif menyebutkan, Jumat (20/7) kemarin rombongan IPB termasuk dirinya, dan wakil rektor, serta Kepala Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) dan Kepala LPPM IPB telah mengunjungi para peserta field course yang menjadi korban kecelakaan kapal laut KM Orange.

Kedatangan rombongan IPB ke Binuangeun untuk memberikan dukungan moral terhadap peserta, maupun keluarga korban yang meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. "Mereka shock atas peristiwa tersebut, kita berikan dukungan moral agar tidak trauma dan mencari tahu kronologis yang sebenarnya," kata Arif.

Arif menyebutkan, musibah tenggelamnya kapal perahu KM Orange di area pintu masuk Muara Binuangeun sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal tersebut dalam perjalanan pulang membawa rombongan peserta field course Pulau Tinjil 2018.

Kapal dinakhodai oleh Juber, dengan penumpang sebanyak 24 orang, termasuk nakhoda dan anak buah kapal (ABK).  "Kapal terkena hantaman ombak di lambung kanan, menyebabkan kapal terbalik," kata Arif.

Menurut Arif, rombongan yang ikut kegiatan tersebut sudah memenuhi prosedur standar operasi atau SOP keselamatan. Semua penumpang di kapal menggunakan jaket pelampung, termasuk dua korban warga sipil yang bertugas sebagai staf dapur.

Tapi, lanjut Arif, setelah kapal terhantam ombak, sejumlah penumpang kehilangan jaket pelampung yang terlepas karena kerasnya hantaman ombak, maupun tersangkut material kapal.

"Ada juga yang melepas jaketnya, dua orang mahasiswa IPB, karena mereka jago berenang, mau coba selamatkan teman-teman yang lainnya," kata Arif.

Arif menegaskan, bahwa peristiwa tersebut murni kecelakaan, karena ombak yang cukup besar menghantam lambung kapal, hingga terbalik. Tetapi, pihak IPB masih menunggu penelusuran dari petugas keamanan, terkait kecelakaan tersebut.

"Upaya sudah maksimal, apalagi kegiatan ini melibatkan warga negara asing, yang jelas prosedur keselamatan menjadi paling utama. Ini musibah, tapi kajian tetap dilakukan dengan syahbandar," kata Arif.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA