Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Gelombang Tinggi di Pesisir Selatan Diprakirakan 5-7 Meter

Selasa 24 Jul 2018 17:03 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Esthi Maharani

Gelombang tinggi.

Gelombang tinggi.

Foto: Antara.
Perbedaan tekanan udara antara bumi utara dan selatan mencapai 35 kilometer per jam.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( bmkg ) memprakirakan gelombang tinggi masih akan terjadi di pesisir selatan DI Yogyakarta. Bahkan, gelombang tinggi mencapai tujuh meter diprakirakan terjadi Rabu (25/7).

Berdasarkan perkembangan dinamika atmosfer terakhir pada 23 Juli 2018 pukul 16.00, terpantau beberapa pusat tekanan rendah di belahan bumi utara. Terutama, di Laut Cina Selatan sebelah timur Vietnam (996 hPa).

Selain itu, pusat tekanan tinggi terdapat di belahan bumi bagian selatan, utamanya di sekitar perairan sebelah timur Sidney, Australia (1.023 hPa). BMKG memprakirakan, kondisi itu berdampak ke peningkatan kecepatan angin.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Mlati, Agus Sudaryatno mengatakan, dampak peningkatan kecepatan angin dari perbedaan tekanan udara signifikan antara belahan bumi bagian utara dan selatan mencapai 35 kilometer per jam.

"Dan peningkatan tinggi gelombang laut di pesisir selatan Yogyakarta," kata Agus.

(Baca: Gelombang Tinggi Masih Terjadi di Laut Selatan Jawa)

Setelah 3-4 meter pada 23 Juli 2018 dan 4-6 meter pada 24 Juli 2018, BMKG memprakirakan gelombang tinggi 5-7 meter pada 25 Juli 2018. Walau lebih rendah, gelombang tinggi tetap diprakirakan melebihi tiga meter. Gelombang tinggi 3,5-5 meter diprakirakan terjadi pada 26 Juli 2018, 3-4 meter pada 27 Juli 2018, 3,5-5 meter pada 28 Juli 2018, dan 3,5-5 meter pada 29 Juli 2018.

Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar mewaspadai peningkatan kecepatan angin dan ketinggian gelombang laut. Terutama, masyarakat yang beraktivitas di sekitar pantai, nelayan dan wisatawan di pantai selatan DI Yogyakarta.

"Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kepada nelayan sementara waktu diimbau agar tidak melaut dan kepada wisatawan diimbau untuk tidak mandi di laut hingga tinggi gelombang laut kembali kondusif," ujar Agus.

Kepala Sub Bidang Analisis dan Prediksi Meteorologi Maritim BMKG, Zairo Hendrawan, meminta masyarakat memperhatikan resiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran baik perahu nelayan, kapal tingkang, ferry dan kapal besar.

Untuk perahu nelayan, waspadai angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan ketinggian gelombang di atas 1,25 meter. Untuk kapal tongkang waspadai angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan ketinggian gelombang di atas 1,5 meter.

Untuk kapal ferry waspadai kecepatan angin lebih dari 21 knot dan ketinggian gelombang di atas 2,5 meter. Sedangkan, kapal besar sepert kargo atau pesiar waspadai kecepatan angin dari 27 knot dan ketinggian gelombang di atas 4 meter.

"Nelayan di daerah bagian barat Sumatra, selatan Jawa, NTB, NTT dan daerah lain, khususnya yang tercantum dalam daftar peringtan dini, harap mempertimbangkan kondisi tersebut sebelum melaut," kata Zairo.

Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG DIY membuka layanan informasi cuaca 24 jam. Baik melalui call center di 0274-2880151/51 atau di @StaklimJogja.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA